Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

PALANG PINTU

Hari ini aku pulang, sahabatku. Persimpangan jalan ini masih lah sama meski gedung telah berganti dan pohon telah meninggi. Nuansanya tak pernah hilang. Dua tahun yang lalu kau bertanya padaku ketika kudatang dengan selembar artikel yang kupotong. Hari itu lama kita tak berjumpa dan masih mudah engkau kutemui di tempat biasa. “Untuk apa kau datang?” “Kenangan,” percakapan ini sangat tak asing bagi kita karena kita pernah membacanya di sebuah cerpen koran minggu, setahun sebelum itu. Setahun sebelum itu kau kujumpai di tempat yang sama. Sepulang aku berjualan koran di Pasar Kemiri, ku berikan sepotong cerpen. Seperti biasa. Seperti minggu yang sudah-sudah. Kubilang padamu bahwa karyaku akan tertera disana dan di koran-koran lain, suatu hari nanti. Kau tersenyum. Tanpa ragu. Hingga setahun setelahnya aku datang kembali dengan sedikit jumawa dan beribu kerinduan. Kau masih ditempat yang sama. Sahabatku. Kuperlihatkan padamu koran senin pagi yang tak lagi pernah kujaja...

AKU MINTA ANTAR BAPAK KE SEKOLAH

Menjelang tahun ajaran baru, aku senyum-senyum. Gambar-gambar di sosial media bikin aku kangen bapakku. Lelaki tampan yang kukenal pertama kali lewat poster dan baliho di sepanjang Jalan Margonda. Aku di kasi tau sama lelaki bisu yang selama ini ku kira adalah bapakku. Setelah aku pandai baca tulis lelaki itu bilang lewat tinta oli di atas bekas bungkus nasi kalau pria yang ada di baliho warna hijau itu anaknya. Disitu aku mulai paham kalau itu kakekku. Aku mau mudik ke rumah bapakku. Ya, bapakku yang ada di baliho. Ya jelas kerumahnya yang beneran lah masa aku pulang ke baliho. Kalau sudah ketemu sama dia aku mau sungkem terus minta duit buat bayaran sekolah yang udah ditagih entah berapa kali. Tapi ya gitu. Enggak ketemu.. Lah yaudah aku minta aja sama kakekku biar nganter aku ke sekolah. Tapi ya kakekku gatau mau bayar sekolah pake apa? Pake setumpuk koran yang udah gak laku dijual di lampu merah? Adikku yang masih bayi turut menangis. Sudah sebulan lebih dia minum ...

PERI MATI

Aku, ibuku, dan jalanan ibu kota. Aku dan ibuku yang tak kukenal yang mana. Ada banyak wanita yang memperlalukanku sama. Kami mendewakan matahari yang membakar kulit. Kami membenci hujan yang mencengkramku dingin dan kadang merendam telapak kaki hinga ke lutut. Aku hidup di antara rimba dan binatang berderu. Kadang suaranya mendesak hingga ke dada. Setiap kali aku menangis pada dunia, ibu dan ibuku memberikan kain. Harum aromanya dan membuatku melayang hingga ke awan. Awan yang kulihat melayang bersama sinar mentari. Setiap ibu mencintaiku. Katanya aku tak suka menangis. Mereka bilang aku lucu di dalam tidurku. Di setiap persimpangan, aku melihat orang lain. Kulitnya putih kemerahan. Terkadang mereka menangis dan terkadang mereka tertawa. Mereka ada di setiap pelukan wanita yang tak kukenal. Apa yang mereka minum? Apa itu yang tak pernah kurasakan sebelumnya? Ibu bahagia. Ibu bangga punya aku. Sangking bangganya mereka memperebutkan aku. Jika mereka dapatkan aku...