Menjelang tahun ajaran baru,
aku senyum-senyum. Gambar-gambar di sosial media bikin aku kangen bapakku. Lelaki
tampan yang kukenal pertama kali lewat poster dan baliho di sepanjang Jalan
Margonda. Aku di kasi tau sama lelaki bisu yang selama ini ku kira adalah
bapakku. Setelah aku pandai baca tulis lelaki itu bilang lewat tinta oli di
atas bekas bungkus nasi kalau pria yang ada di baliho warna hijau itu anaknya. Disitu
aku mulai paham kalau itu kakekku.
Aku mau mudik ke rumah
bapakku. Ya, bapakku yang ada di baliho. Ya jelas kerumahnya yang beneran lah
masa aku pulang ke baliho. Kalau sudah ketemu sama dia aku mau sungkem terus minta
duit buat bayaran sekolah yang udah ditagih entah berapa kali.
Tapi ya gitu. Enggak ketemu..
Lah yaudah aku minta aja sama
kakekku biar nganter aku ke sekolah. Tapi ya kakekku gatau mau bayar sekolah
pake apa? Pake setumpuk koran yang udah gak laku dijual di lampu merah?
Adikku yang masih bayi turut
menangis. Sudah sebulan lebih dia minum air tajin1 dari beras aking.
Biasanya dia minum susu kaleng barang seminggu sekali.
Kadang aku iri lihat adikku. Dia
kuat. Gak pernah menangis. Di gendong sambIl ngemis aja diem. Mintanya gak
aneh-aneh. Kalu dah gede nanti dia cocok jadi presiden. Orang yang gak pernah merengek ke sosmed kalau lagi sedih.
Singkat cerita kudengar
bapakku yang ada di baliho kalah suara. Tau dari mana? Kata orang-orang di Kopaja2
dan Deborah3 sih gitu. Lantas dia pulang kampung. Kayaknya gak
bakalan susah kalau nyari dia di kampung.
Namanya memang sudah kaya
merek kacang. Populer. Gak butuh waktu lama buat nemuin rumahnya. Aku bawa adek
bayiku sesuai dengan permintaan kakekku. Sore itu, dia duduk di dipan depan
rumah paling modern di kampung itu. Kuucapkan salam. Tapi dia tidak menjawab. Matanya
malah melotot. Ku panggil namanya, “Bapak..” mukanya makin merah padam.
Sesaat itu aku pulang ke kota.
Aku tak dianggapnya anak. juga adekku, yang sebenernya (ternyata) cucunya..
1; air yang ada ketika memasak
nasi
2 dan 3; Angkutan umum.
#ekonomimenulis
#fmafebui
#muslimeconomist
#selamanyaproduktif
#ekonomimenulis
#fmafebui
#muslimeconomist
#selamanyaproduktif
Komentar
Posting Komentar