Langsung ke konten utama

Didik Anakmu


Duduk di kafe nan fancy di suatu sore dengan secangkir kopi racikan barista terlatih, Aku dan salah seorang temanku berbincang tentang segala yang tentang dan bukan tentang kami. Perbincangan terlalu menarik untuk ditinggalkan kecuali oleh suara dering telepon genggam milik temanku yang tiba-tiba berbunyi, datang dari Mamanya. Jeda bincang itu memberikan aku cukup waktu untuk mengamati hal lain disekitar kami. Hal yang sudah terlalu lumrah, sekumpulan orang, entah keluarga atau kerabat curhat yang duduk melingkar meja dan saling sibuk dengan HP-nya masing-masing.

Hingga datanglah sebuah keluarga, terdiri dari sejoli paruh baya dan dua orang anak laki-lakinya. Mereka duduk, memesan kopi dan beberapa makanan. Setelahnya yang membuatku memberi perhatian lebih, ketika sang Mama berkata, “......, Lima menit buat cek HP kalian masing-masing, abis itu semua HP Mama simpen di tas”. Lalu mereka tenggelam dengan HP masing-masing, sempat terlihat olehku sang Papa yang sedang mencantumkan beberapa berkas untuk dikirimkan melalui emai.

Mungkin lima menit sudah berlalu, mungkin tidak tepat karena aku bukan tipe orang yang selalu taat pada waktu, atau tepat karena ditandai oleh sang Mama yang mulai menagih HP milik satu-persatu anggota keluarga. Kemudian ku dengar “....... sebelum Mama ceritain kerjaan di Bangkok kemaren, Mama pengen denger rencana Kakak selama seminggu kedepan,......”. Karena sadar aku sudah terlalu jauh mencuri dengar, aku kembalikan fokusku pada teman dihadapanku yang masih berbincang dengan Mamanya di telpon sembari mengambil sebatang kretek filter.

Setelah aku dan temanku kembali berbincang, konsentrasiku tak lagi bisa tidak terbagi pada keluarga yang tadi. Sesekali kurasakan ada intonasi yang sedikit memberi tekanan dan/atau nada yang agak tinggi. Sesekali aku dengar sang Papa memberi saran, sesekali sang adik menanyakan soal detil rencana. Mereka terlalu mengaggumkan untuk sama sekali aku abaikan.

Kedua orang tua ini adalah sepasang individu yang punya keriuhan individu di dunia profesionalnya masing-masing. Hari itu di momen mereka berkumpul dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk saling mengorek kehidupan masing-masing personalia keluarga. Sang Mama curhat sambil sesekali menunjukkan rasa kesal, lalu ditimpali dengan opini Papa yang berusaha memberikan sudut pandang positif. Sang adik kadang menertawakan Papanya yang bercerita soal kekonyolan-kekonyolan yang dialami entah di kantor atau di perjalanan dinasnya. Juga sang Kakak yang memberikan pengakuan dosa karena telah memberikan harapan pada seorang gadis di luar sana- entah siapa.

Keluarga ini memberikan aku tambahan bukti cerita sebagai antitesis dari lirik lagu anak jalanan – entah milik siapa, aku taunya dinyanyikan oleh Sandhy Sandoro – anak metropolitan yang cinta kasih dari Ayah dan Ibu hanyalah peri yang palsu. Dari kisah sukses pengasuhan orang tua sibuk lainnya, aku ingin membeberkan beberapa hal yang untuk sementara ini menjadi peganganku jika suatu hari nanti aku diamanahi sebuah keluarga lengkap dengan anak-anak.

1.       Anakmu bukanlah kamu
Ketika keturunan kamu lahir, dia bukanlah kamu dan kamu sungguh adalah orang lain dihidupnya yang kebetulan punya hubungan darah dan mungkin akan hidup bersama beberapa belas tahun ke depan. Beberapa hal mungkin memiliki kesamaan, tapi kebanyakan sudah berbeda. Maka apa yang menjadi kamu dan melekat di hidup jiwa raga kamu tak bisa seenaknya disalin dan digandakan ke diri keturunan kamu.

Banyak kisah kegagalan mahasiswa terjadi karena adanya paksaan jurusan dari orang tua. Misalnya dalam suatu kasus, orang tua yang merupakan alumni Akuntasi UI dan bekerja sebagai Auditor ternama menginginkan anaknya masuk jurusan yang sama. Berbekal pengalaman orang tuanya yang mendapatkan segalanya saat berkuliah, istri/suami, pekerjaan yang baik, gaji besar, dan kehormatan, sang orang tua ingin mendapatkan yang terbaik, yang sama atau lebih dari apa yang didapatkan orang tuanya, dari sudut pandang orang tuanya, yang bukan diri anaknya.  

2.       Kekerasan tak membuatmu sempurna dimata anakmu
Mendidik anak dengan kekerasan mungkin ada baiknya,  tapi lebih banyak buruknya. Ada kecenderungan, orang tua yang memberikan terapi kekerasan kepada anaknya tidak suka ketika dia mendapatkan sanggahan atau kritik, karena baginya, kedua hal itu hanya akan menggoyahkan kedudukannya. Tipe orang tua seperti ini ingin senantiasa menjaga kewibawaannya dan tidak ingin terlihat celah ketidaksempurnaannya.

Kekerasan dalam pendidikan memberikan jarak antara individu yang hidup bersama bertahun-tahun dalam bingkai keluarga. Pendidikan dengan kekerasan sering juga tidak memiliki dasar yang kuat.  Misalnya, seorang Ayah yang tidak mengizinkan anaknya minum alkohol memberikan larangan tanpa argumen yang rasional,  “kalau kamu minum-minum maka kamu akan saya .....”. Banyak kasus ketika sang anak yang mungkin belum menginjak 15 tahun sudah mampu mencari nafkah dan merasa tidak lagi tergatung pada orang tuanya, kemudian rutin mengonsumsi alkohol yang dilarang ayahnya, tapi Ayahnya tak mampu lagi melarang anak itu.

3.       Jangan jadi hakim bagi anakmu
Ketika anakmu gagal atau melakukan kesalahan, itu karena dia adalah manusia. Jangan pernah sekali-kali kamu menjadi hakim bagi kesalahan dan kegagalannya. Di kehidupan luar sana, sudah terlalu banyak orang yang menghakiminya. Baginya, kamu adalah pemngacaranya, yang dipercaya sebagai konsultan dan memberikan saran pemecahan masalah yang baik.

Jika apa yang menjadi kegagalan dan kesalahannya adalah suatu nilai keluarga yang telah kalian sepakati, berikan Ia ruang untuk menjalani hukuman yang kalian sepakati juga, bukan hukuman yang kamu berikan saat kesalahan itu terjadi. Berikan Ia pemahaman mengenai nilai yang disepakati, juga konsekuensi yang disepakati sebagai suatu hal yang logis dan cukup rasional.

4.       Luangkan waktu yang cukup dan berkualitas
Hal terakhir ini adalah kesulitan yang berat, yang muncul dari distraksi telpon pintar dan menjerat keseharian kita semua. Jangan sampai hubunganmu dengan istri dan anak-anakmu sama seperti hubungan anak-anak kos, yang hidup bertahun-tahun, atau bahkan lebih buruk daripada itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selewat Kisah Sebutir Nasi Yang Menangis

Tempo lalu aku makan di salah satu restoran mahal yang berada di mall mewah di Jakarta. Pamer dikit ya, resto itu mengusung konsep ‘all you can eat’. Restoran yang sedari awal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah makan disana kecualli dibayarin, dan tentunya yang kemarin itu dibayarin oleh salah satu klien kantor. Mau tau kenapa aku berjanji demikian? Sedari awal aku memang udah punya persepsi kurang baik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘all you can eat’ dan gak hanya berlaku untuk restoran. Termasuk makanan yang ada di acara-acara penting yang banyak makanannya tentunya. Dan benar saja persepsiku. Pas aku antri makanan, aku kaya lihat segerombolan manusia yang ‘kok agak kurang punya kebudayaan dan belum pernah mengenal peradaban’. BARBAR KALI! Semua mau diambil dan semua mau dimakan. Alasannya sederhana lah. Karena sudah bayar sekian ratus ribu dengan waktu yang dibatasi selama 90 menit, yang makan disana harus memaksimumkan kepuasan den...

Masalah Lebih Cepat Datang Kepada Mereka Yang Tidak Diam

Suatu hari aku duduk menghadap secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek bersama temanku. Kita tenggelam di suatu pergibahan mengenai kesialan seorang teman. Dia yang kami perbincangkan ini menghadapi perkara yang tidak terduga bisa disandungnya. “Hidup gini amat yak” kata lawan bincangku. Kalimat itu adalah gambaran umum tentang hidup yang harus tersandung masalah. Namanya kesandung ya kesel campur kaget. Siapa sajakah mereka yang kesandung? Tentu syarat pertama untuk bisa kesandung adalah berjalan, berlari,  atau bergerak kedepan.  Perkara kedua adalah ketiadaan waspada. Entah karena memang kurang waspada atau gerak jalannya terlalu cepat. Seperti kata temanku, “Dia udah nekat banget sih.” Cuplikan ini menghantarkan aku kembali ke beberapa memori. Dulu ketika aku sedang megamen di sekitar bundaran Hotel Indonesia, temanku nekat mengambil uang dari  dashboard  metromini yang ditinggal supirnya beradu debat dengan mobil yang menabrak dari belakan...

Bujang

Kisah ini terjadi bersamaan dengan eksistensimu di dunia ini. Tepatnya pada tahun-tahun dimana pengguna aplikasi chat whatsapp belum didominasi oleh bapak-bapak cabul yang doyan share foto syur biduan-biduan klub dangdut orkes melayu. Kesatu Diceritakan seorang pemuda, ganteng-ganteng sedang (GGS) berhidung mancung, beralis tebal, berkumis tipis, dan memiliki beberapa jerawat karena jarang cuci muka sampai di sautu daerah yang baru dikenalnya. Daerah ini terletak di bagian barat pulau Sumatera bernama Lubuk Basung. Kedatangannya bermaksud untuk memenuhi undangan dari paman jauh yang konon katanya sudah sukses di tanau rantau dengan perniagaannya. Paman-kemenakan itu bertemu di terminal kabupaten. Setelah saling rangkul dan menanggalkan kerinduan, sang paman langsung mengajak ke lokasi utama tempat operasional perniagaannya berlangsung yang berjarak 30 menit perjalanan motor ke arah pegunungan. Takjub betul si bujang tanggung ketika sampai di TKP. Warung besar berbentuk ru...