Takdir,
Sejauh manakah kita percaya terhadap takdir? Sudahkah kita menayakan lebih mandalam
mengenai Takdir yang ditentukan Allah terhadap kita? Dalam film the Matrix, Pernyataan
Neo kepada Morpheus bahwa dia tidak dapat memercayai takdir yang berarti ketidakmampuan
manusia menentukan hidupnya sendiri.
Apakah
perbedaan antara dunia nyata dan dunia impian? Apakah realitas yang dilihat dan
dirasakan sehari-hari merupakan sebuah realitas? Seperti apa yang diajarkan
Allah s.w.t. melaului Alquran dan Hadis bahwasannya dunia yang kita tempati
saat ini hanyalah fana dan sementara. Ada dunia yang lebih nyata disisinya.
Namun,
kebanyakan manusia terlahir sebagai budak, terkekang oleh pikiranmu sendiri. Pikiran
yang tertanam bahwa dunia kita saat ini lah yang sebenarnya. Sehingga kita
berbuat semau dan sekehendaknya manusia tanpa tuntunan yang diberikan oleh Sang
Maha Pencipta.
Sesungguhnya
manusia memiliki ketidakpedulian terhadap suatu hakikat realitas. Karena untuk
dapat memahaminya, manusia harus berani membebaskan diri dan mencapai realitas
yang sesungguhnya. Untuk mendapatkan apa yang disebut hakikat sebuah realitas, diperlukan
perjuangan yang berat dan ujian yang sangat berat.
Dalam
adegan Neo mengunjungi Sang Peramal, terdapat pelajaran yang sangat penting. “Jangan
coba membengkokkan sendok. Pikirkan sendok itu tak ada. Dan yang akan kau lihat
hanyalah dirimu sendiri”. Dalam kaitannya dengan ilmu tasawuf, pernyataan itu
bermakna agar manusia tidak membatasi diri dengan keberadaan Tuhannya.
Sesungguhnya segala sesuatu tidak ada. Yang ada hanyalah Tuhan. Seperti yang
diucapkan oleh Syekh Siti Jennar, “Allah itu
adalah keadaanku, kenapa kawan-kawan pada memakai penghalang? Sesungguhnya aku
inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir
batin Allah, kenapa kawan-kawan masih memakai pelindung?” (Babad Tanah Sunda,
Sulaeman Sulendraningrat, 1982, bagian XLIII). Beliau mengajarkan
janganlah hendaknya kita memisahkan diri dengan keberadaan Tuhan karena kita
(mahluk sebagai ciptaannya) merupakan manifestasi dari keberadaan Tuhan.
Tidaklah Allah sebagai Yang Maha Pencipta jika tidak ada kita. Sesungguhnya, di
dalam setiap diri kita terdapat Tuhan yang tidak dapat terpisahkan dan menjadi
ruh yang lebih dekat disbandingkan urat nadi manusia.
Namun
sesungguhnya manusia memiliki potensi sehingga manusia mampu menentukan pilihan
hidupnya sendiri. Apakah kita akan menjadi diri yang apatis dan tidak peduli
dengan hakikat realitas, ataukah kita memilih jalan yang mendekatkan diri kita
kepada Allah yang diwijudkan melalui kepedulian kita terhadap sesama mahluk
ciptaannya.
Bersumber dari penalaran dan pengetahuan baru dari kuliah Umum Tasawuf oleh Prof. Nazaruddin Umar (Imam Masjid Istiqlal)

Komentar
Posting Komentar