Langsung ke konten utama

Film The Matrix (1999) Dalam Perspektif Ilmu Tasawuf


Dalam percakapan pertama Neo dengan Trinity, Neo terungkap bahwa Neo sedang mencari seseorang. Hakikat dari pencarian itu bukanlah mengenai siapa, namun apa. Dalam kaitannya dengan ilmu tasawuf, manusia sejatinya tidak sedang mencari siapakah Tuhan, melainkan mencari kebenaran dari keberadaan Tuhan itu sendiri. Tuhan yang selama ini kita imani Maha Menentukan kehidupan kita.

Takdir, Sejauh manakah kita percaya terhadap takdir? Sudahkah kita menayakan lebih mandalam mengenai Takdir yang ditentukan Allah terhadap kita? Dalam film the Matrix, Pernyataan Neo kepada Morpheus bahwa dia tidak dapat memercayai takdir yang berarti ketidakmampuan manusia menentukan hidupnya sendiri.

Apakah perbedaan antara dunia nyata dan dunia impian? Apakah realitas yang dilihat dan dirasakan sehari-hari merupakan sebuah realitas? Seperti apa yang diajarkan Allah s.w.t. melaului Alquran dan Hadis bahwasannya dunia yang kita tempati saat ini hanyalah fana dan sementara. Ada dunia yang lebih nyata disisinya.

Namun, kebanyakan manusia terlahir sebagai budak, terkekang oleh pikiranmu sendiri. Pikiran yang tertanam bahwa dunia kita saat ini lah yang sebenarnya. Sehingga kita berbuat semau dan sekehendaknya manusia tanpa tuntunan yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta.
Sesungguhnya manusia memiliki ketidakpedulian terhadap suatu hakikat realitas. Karena untuk dapat memahaminya, manusia harus berani membebaskan diri dan mencapai realitas yang sesungguhnya. Untuk mendapatkan apa yang disebut hakikat sebuah realitas, diperlukan perjuangan yang berat dan ujian yang sangat berat.

Dalam adegan Neo mengunjungi Sang Peramal, terdapat pelajaran yang sangat penting. “Jangan coba membengkokkan sendok. Pikirkan sendok itu tak ada. Dan yang akan kau lihat hanyalah dirimu sendiri”. Dalam kaitannya dengan ilmu tasawuf, pernyataan itu bermakna agar manusia tidak membatasi diri dengan keberadaan Tuhannya. Sesungguhnya segala sesuatu tidak ada. Yang ada hanyalah Tuhan. Seperti yang diucapkan oleh Syekh Siti Jennar, “Allah itu adalah keadaanku, kenapa kawan-kawan pada memakai penghalang? Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah, kenapa kawan-kawan masih memakai pelindung?” (Babad Tanah Sunda, Sulaeman Sulendraningrat, 1982, bagian XLIII). Beliau mengajarkan janganlah hendaknya kita memisahkan diri dengan keberadaan Tuhan karena kita (mahluk sebagai ciptaannya) merupakan manifestasi dari keberadaan Tuhan. Tidaklah Allah sebagai Yang Maha Pencipta jika tidak ada kita. Sesungguhnya, di dalam setiap diri kita terdapat Tuhan yang tidak dapat terpisahkan dan menjadi ruh yang lebih dekat disbandingkan urat nadi manusia.

Namun sesungguhnya manusia memiliki potensi sehingga manusia mampu menentukan pilihan hidupnya sendiri. Apakah kita akan menjadi diri yang apatis dan tidak peduli dengan hakikat realitas, ataukah kita memilih jalan yang mendekatkan diri kita kepada Allah yang diwijudkan melalui kepedulian kita terhadap sesama mahluk ciptaannya.

Bersumber dari penalaran dan pengetahuan baru dari kuliah Umum Tasawuf oleh Prof. Nazaruddin Umar (Imam Masjid Istiqlal)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selewat Kisah Sebutir Nasi Yang Menangis

Tempo lalu aku makan di salah satu restoran mahal yang berada di mall mewah di Jakarta. Pamer dikit ya, resto itu mengusung konsep ‘all you can eat’. Restoran yang sedari awal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah makan disana kecualli dibayarin, dan tentunya yang kemarin itu dibayarin oleh salah satu klien kantor. Mau tau kenapa aku berjanji demikian? Sedari awal aku memang udah punya persepsi kurang baik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘all you can eat’ dan gak hanya berlaku untuk restoran. Termasuk makanan yang ada di acara-acara penting yang banyak makanannya tentunya. Dan benar saja persepsiku. Pas aku antri makanan, aku kaya lihat segerombolan manusia yang ‘kok agak kurang punya kebudayaan dan belum pernah mengenal peradaban’. BARBAR KALI! Semua mau diambil dan semua mau dimakan. Alasannya sederhana lah. Karena sudah bayar sekian ratus ribu dengan waktu yang dibatasi selama 90 menit, yang makan disana harus memaksimumkan kepuasan den...

Masalah Lebih Cepat Datang Kepada Mereka Yang Tidak Diam

Suatu hari aku duduk menghadap secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek bersama temanku. Kita tenggelam di suatu pergibahan mengenai kesialan seorang teman. Dia yang kami perbincangkan ini menghadapi perkara yang tidak terduga bisa disandungnya. “Hidup gini amat yak” kata lawan bincangku. Kalimat itu adalah gambaran umum tentang hidup yang harus tersandung masalah. Namanya kesandung ya kesel campur kaget. Siapa sajakah mereka yang kesandung? Tentu syarat pertama untuk bisa kesandung adalah berjalan, berlari,  atau bergerak kedepan.  Perkara kedua adalah ketiadaan waspada. Entah karena memang kurang waspada atau gerak jalannya terlalu cepat. Seperti kata temanku, “Dia udah nekat banget sih.” Cuplikan ini menghantarkan aku kembali ke beberapa memori. Dulu ketika aku sedang megamen di sekitar bundaran Hotel Indonesia, temanku nekat mengambil uang dari  dashboard  metromini yang ditinggal supirnya beradu debat dengan mobil yang menabrak dari belakan...

Bujang

Kisah ini terjadi bersamaan dengan eksistensimu di dunia ini. Tepatnya pada tahun-tahun dimana pengguna aplikasi chat whatsapp belum didominasi oleh bapak-bapak cabul yang doyan share foto syur biduan-biduan klub dangdut orkes melayu. Kesatu Diceritakan seorang pemuda, ganteng-ganteng sedang (GGS) berhidung mancung, beralis tebal, berkumis tipis, dan memiliki beberapa jerawat karena jarang cuci muka sampai di sautu daerah yang baru dikenalnya. Daerah ini terletak di bagian barat pulau Sumatera bernama Lubuk Basung. Kedatangannya bermaksud untuk memenuhi undangan dari paman jauh yang konon katanya sudah sukses di tanau rantau dengan perniagaannya. Paman-kemenakan itu bertemu di terminal kabupaten. Setelah saling rangkul dan menanggalkan kerinduan, sang paman langsung mengajak ke lokasi utama tempat operasional perniagaannya berlangsung yang berjarak 30 menit perjalanan motor ke arah pegunungan. Takjub betul si bujang tanggung ketika sampai di TKP. Warung besar berbentuk ru...