Langsung ke konten utama

Entah Tuhan Yang Mana

Adalah Menyen yang senantiasa menghiasi hari-hari di sekitaran lampu merah perempatan jalan Sumur. adalah jalanan menjadi dunianya karena dia terlahir di salah satu sudut jalan itu, di pembuangan sampah sementara ari-ari masih mengikat padanya dan darah masih menyelimuti sekujur tubuhnya. Kata warga masih syukur bisa bertahan hidup. Tapi mungkin hatinya tak setuju karena dunianya hanyalah dia yang tau.

Hatiku tak nyaman tiap kali ada yang mengamen atau mengemis di kawasanku. Rasanya perhatian pemilik motor terbagi kepada mereka. Ingin sekali aku mengumpat kepada mereka namun tentu mereka tak akan mendengar dan tak akan paham.

Hanyalah Pak Uman yang membuatku merasa teduh. Hatinya lembut dan menaruh perhatian kepadaku. Setiap malam menjelang tidur beliau menghampiri selokan belakang pos satlantas. Mengantarkan sebungkus nasi sebelum ku tidur.

Aku sayang Pak Uman. Sangking sayangnya sampai ia kadang kesal kepadaku karena aku bertindak seperti anak kecil yang tak menurut. Aku seringkali mengotori pakaian putih lengan panjangnya yang sepadan dengan peci putih kusam di kepalanya. Seperti pakaian banyak lelaki di kota ini. tapi entah kenapa Pak Uman berbeda. Kebanyakan mereka mengaku pemuka agama tapi hatinya tak seteduh ajarannya. Perilakunya tak seindah bangunan rumah ibadahnya. Perkataannya tak sehebat perayaan-perayaannya.
---
Menyen. Entahlah apa yang di ada duniamu, hatimu, pikiranmu, jiwamu, dan segala pergulatan yang ada didalamnya. Aku hanya bisa melihatmu menyebrang jalan sembarangan. Seakan jalan adalah padang ilalang dalam duniamu. Apa yang salah dengan pembangunan hingga menyingkirkanmu daripadanya.

Aku teringat kepada putraku yang merantau beberapa tahun yang lalu. Masihkah ia ingat kepadaku? Akankah ia mampu membiayai hidup yang semakin tak manusiawi. Tuhan begitu sayang kepadamu. Tuhan senantiasa menyelamatkan hidupmu. Adakah tuhan dihatimu?
---
Benarkah Engkau Tuhan sayang kepadaku? Benarkah dunia yang kau bangun adalah juga untuk aku? Ataukah aku yang hadir hanya untuk dunia? Untuk diperjual belikan, untuk menghirup aroma bius obat tidur, terik panas matahari, dan dingin dekap malam? Dan kini aku menua tanpa ada yang pernah memahami perkataanku. Aku hanya ada untuk jadi bahan tertawaan mereka. Adakah sesuatu yang lebih bernilai dariku?

---
Hingga kesendirian datang kepadanya. Tak seorangpun pemuka agama memberikan peribadatan terakhir padanya. Tak ada yang tau pasti apa agamanya. Yang pasti dia sudah tenang disisi Tuhan.
Entah Tuhan Yang Mana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selewat Kisah Sebutir Nasi Yang Menangis

Tempo lalu aku makan di salah satu restoran mahal yang berada di mall mewah di Jakarta. Pamer dikit ya, resto itu mengusung konsep ‘all you can eat’. Restoran yang sedari awal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah makan disana kecualli dibayarin, dan tentunya yang kemarin itu dibayarin oleh salah satu klien kantor. Mau tau kenapa aku berjanji demikian? Sedari awal aku memang udah punya persepsi kurang baik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘all you can eat’ dan gak hanya berlaku untuk restoran. Termasuk makanan yang ada di acara-acara penting yang banyak makanannya tentunya. Dan benar saja persepsiku. Pas aku antri makanan, aku kaya lihat segerombolan manusia yang ‘kok agak kurang punya kebudayaan dan belum pernah mengenal peradaban’. BARBAR KALI! Semua mau diambil dan semua mau dimakan. Alasannya sederhana lah. Karena sudah bayar sekian ratus ribu dengan waktu yang dibatasi selama 90 menit, yang makan disana harus memaksimumkan kepuasan den...

Masalah Lebih Cepat Datang Kepada Mereka Yang Tidak Diam

Suatu hari aku duduk menghadap secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek bersama temanku. Kita tenggelam di suatu pergibahan mengenai kesialan seorang teman. Dia yang kami perbincangkan ini menghadapi perkara yang tidak terduga bisa disandungnya. “Hidup gini amat yak” kata lawan bincangku. Kalimat itu adalah gambaran umum tentang hidup yang harus tersandung masalah. Namanya kesandung ya kesel campur kaget. Siapa sajakah mereka yang kesandung? Tentu syarat pertama untuk bisa kesandung adalah berjalan, berlari,  atau bergerak kedepan.  Perkara kedua adalah ketiadaan waspada. Entah karena memang kurang waspada atau gerak jalannya terlalu cepat. Seperti kata temanku, “Dia udah nekat banget sih.” Cuplikan ini menghantarkan aku kembali ke beberapa memori. Dulu ketika aku sedang megamen di sekitar bundaran Hotel Indonesia, temanku nekat mengambil uang dari  dashboard  metromini yang ditinggal supirnya beradu debat dengan mobil yang menabrak dari belakan...

Bujang

Kisah ini terjadi bersamaan dengan eksistensimu di dunia ini. Tepatnya pada tahun-tahun dimana pengguna aplikasi chat whatsapp belum didominasi oleh bapak-bapak cabul yang doyan share foto syur biduan-biduan klub dangdut orkes melayu. Kesatu Diceritakan seorang pemuda, ganteng-ganteng sedang (GGS) berhidung mancung, beralis tebal, berkumis tipis, dan memiliki beberapa jerawat karena jarang cuci muka sampai di sautu daerah yang baru dikenalnya. Daerah ini terletak di bagian barat pulau Sumatera bernama Lubuk Basung. Kedatangannya bermaksud untuk memenuhi undangan dari paman jauh yang konon katanya sudah sukses di tanau rantau dengan perniagaannya. Paman-kemenakan itu bertemu di terminal kabupaten. Setelah saling rangkul dan menanggalkan kerinduan, sang paman langsung mengajak ke lokasi utama tempat operasional perniagaannya berlangsung yang berjarak 30 menit perjalanan motor ke arah pegunungan. Takjub betul si bujang tanggung ketika sampai di TKP. Warung besar berbentuk ru...