Hatiku tak nyaman tiap kali ada yang
mengamen atau mengemis di kawasanku. Rasanya perhatian pemilik motor terbagi
kepada mereka. Ingin sekali aku mengumpat kepada mereka namun tentu mereka tak
akan mendengar dan tak akan paham.
Hanyalah Pak Uman yang membuatku
merasa teduh. Hatinya lembut dan menaruh perhatian kepadaku. Setiap malam
menjelang tidur beliau menghampiri selokan belakang pos satlantas. Mengantarkan
sebungkus nasi sebelum ku tidur.
Aku sayang Pak Uman. Sangking sayangnya
sampai ia kadang kesal kepadaku karena aku bertindak seperti anak kecil yang
tak menurut. Aku seringkali mengotori pakaian putih lengan panjangnya yang
sepadan dengan peci putih kusam di kepalanya. Seperti pakaian banyak lelaki di
kota ini. tapi entah kenapa Pak Uman berbeda. Kebanyakan mereka mengaku pemuka
agama tapi hatinya tak seteduh ajarannya. Perilakunya tak seindah bangunan rumah
ibadahnya. Perkataannya tak sehebat perayaan-perayaannya.
---
Menyen. Entahlah apa yang di ada duniamu, hatimu, pikiranmu, jiwamu, dan segala pergulatan yang ada didalamnya. Aku hanya
bisa melihatmu menyebrang jalan sembarangan. Seakan jalan adalah padang ilalang
dalam duniamu. Apa yang salah dengan pembangunan hingga menyingkirkanmu
daripadanya.
Aku teringat kepada putraku yang
merantau beberapa tahun yang lalu. Masihkah ia ingat kepadaku? Akankah ia mampu
membiayai hidup yang semakin tak manusiawi. Tuhan begitu sayang kepadamu. Tuhan
senantiasa menyelamatkan hidupmu. Adakah tuhan dihatimu?
---
Benarkah Engkau Tuhan sayang
kepadaku? Benarkah dunia yang kau bangun adalah juga untuk aku? Ataukah aku
yang hadir hanya untuk dunia? Untuk diperjual belikan, untuk menghirup aroma
bius obat tidur, terik panas matahari, dan dingin dekap malam? Dan kini aku menua
tanpa ada yang pernah memahami perkataanku. Aku hanya ada untuk jadi bahan
tertawaan mereka. Adakah sesuatu yang lebih bernilai dariku?
---
Hingga
kesendirian datang kepadanya. Tak seorangpun pemuka agama memberikan
peribadatan terakhir padanya. Tak ada yang tau pasti apa agamanya. Yang pasti
dia sudah tenang disisi Tuhan.
Entah
Tuhan Yang Mana.

Komentar
Posting Komentar