Langsung ke konten utama

Bujang


Kisah ini terjadi bersamaan dengan eksistensimu di dunia ini. Tepatnya pada tahun-tahun dimana pengguna aplikasi chat whatsapp belum didominasi oleh bapak-bapak cabul yang doyan share foto syur biduan-biduan klub dangdut orkes melayu.

Kesatu

Diceritakan seorang pemuda, ganteng-ganteng sedang (GGS) berhidung mancung, beralis tebal, berkumis tipis, dan memiliki beberapa jerawat karena jarang cuci muka sampai di sautu daerah yang baru dikenalnya. Daerah ini terletak di bagian barat pulau Sumatera bernama Lubuk Basung. Kedatangannya bermaksud untuk memenuhi undangan dari paman jauh yang konon katanya sudah sukses di tanau rantau dengan perniagaannya.

Paman-kemenakan itu bertemu di terminal kabupaten. Setelah saling rangkul dan menanggalkan kerinduan, sang paman langsung mengajak ke lokasi utama tempat operasional perniagaannya berlangsung yang berjarak 30 menit perjalanan motor ke arah pegunungan. Takjub betul si bujang tanggung ketika sampai di TKP. Warung besar berbentuk rumah panggung berdinding anyaman bambu khas perkampungan dengan halaman parkir seperempat lapangan bola kaki yang terletak di tepi danau Maninjau itu ramai dengan kegiatan orang-orang yang melepas lelah sembari menyantap bakso.

Sang paman yang masih muda adalah si pemilik warung Bakso Solo paling ternama di sepanjang pesisir danau maninjau. Ceritanya, karena ketampanannya yang hingga kini semakin matang bak sugar daddy, Ia berhasil menikahi salah satu putri saudagar minang. Sang mertua yang yakin betul melihat kegigihan kerja Sang Paman tak segan memberikan bantuan modal. Si Bujang merasa beruntung bisa berkorespondensi dengan sang Paman menggunakan whatsapp. Ia memeroleh nomer Sang Paman karena keisengannya mengetik nama Sang Paman di kolom pencarian pertemanan Facebook, menemukan profilnya, mengirimkan pesan Facebook untuk meminta nomer.

Bujang mengenal sang Paman dari kisah-kisah yang diulang-ulang dan dibumbu-bumbui oleh ibu, Saudara-saudari ibu, Nenek, dan Kerabat-kerabatnya di kampung sejak Si Bujang masih belum bisa pakai celana sendiri. Sang Paman, adalah adik Ibunya yang paling kecil yang sudah menghilang sejak Si Bujang belum bisa berdiri. Awalnya kerabatnya di kampung menceritakan sang paman sebagai si bodoh yang tak tau terimakasih, tak tau betapa beruntungnya Ia yang diwarisi lahan padi seluas seperlima hektar dan memilih untuk merantau. Ketika Si Bujang duduk di kelas sembilan, bumbu-bumbu cerita menjadi lebih heroik karena kabarnya Sang Paman sukses di tanah rantau.

Di kampung halaman mereka, bisa sekolah di SLTA adalah kemewahan. Jarak sekolah adalah jauh sehingga kebanyakan memilih untuk berhenti setelah Ujian Nasiolan sekolah menengah dan melanjutkan karir sebagai petani atau buruh angkut. Si Bujang adalah salah satu yang tidak melanjutkan sekolah selepas SMP. Bedanya, kesuburan tanah di kampung halamannya sungguh bukanlah hal yang menarik baginya. Baginya yang keren adalah sukses di perantauan seperti sang Paman. Maka dari itu Ia memilih untuk kabur, menjadi buruh di kota agar memiliki uang untuk menemui Pamannya.

“Hari ini kamu istirahat dulu ya. Besok kamu perbaiki gerobak yang ada di bawah warung. Kamu pergunakan untuk berdagang,” titah sang Paman ketika menemani Si Bujang yang menikmati dinginnya udara sore Danau Maninjau sembari makan Bakso.

Sore itu matahari di ujung senja tampak jelas dengan langit yang bersih nyaris tanpa mega. Bujang tersenyum-senyum menatap muda-mudi berpangku-pangkuan diatas batang-batang kelapa yang rubuh, tertawa-tawa dengan bahasa yang sepatah katapun tak dipahaminya. Rasa bangga memenuhi dadanya menyadari petualangan baru ada didepan mata.

Pada hari ketiga setelah kedatangannya, Bujang telah siap untuk memulai kehidupan yang sama sekali baru. Pagi itu, gerobaknya berjejer sebaris dengan gerobak-gerobak milik anak buah Sang Paman persis seperti barisan pasukan Wakanda saat akan menghadapi pasukan Thanos di perbatasan. Dari luar, nampak tak ada beda rupa antara gerobaknya dengan gerobak-gerobak yang lain. Tapi perbedaan ada di bagian dalam gerobak. Gerobak Si Bujang tidak terdapat dandang besar. Yang ada hanyalah panggangan yang biasanya ada di gerobak sate. Begitupun dengan isi kabinnya. Bakso yang ada di gerobak milik Bujang ditusuk tiga-tiga, berbeda dengan gerobak bakso pada umumnya. Sang Paman sedang mencoba produk baru, yaitu bakso bakar dan Si Bujang akan menjadi yang pertama menjualnya.

Dijajal nya jalanan kampung yang berbukit-bukit, naik-turun, masuk gang-gang kecil. “Bakso, yuang,” Teriak warga setiap kali mendengan suara denting mangkuk yang diadu dengan senduk. “Bakso bakar, mak,” respon si Bujang. Namun kebanyakan warga yang tadinya menghentikan aktivitas bermaksud untuk membeli bakso akan kembali beraktivitas tanpa melunasi hasratnya kepada bakso. Belum ada yang pernah menjual bakso bakar sebelumnya. Yang membeli biasanya adalah yang masih muda dan penasaran.

Sehari dua hari, bakso Si Bujang dibawa pulang lagi setengahnya. “Masih dalam masa uji coba, namanya usaha gak ada yang langsung sukses,” hibur Sang Paman. Padahal isi hati Si Bujang bukanlah kesedihan seperti yang dikira Pamannya. Tapi rasa tidak enak hati karena tak bisa menjadi pedagang yang becus.

“Kan kamu cerita kebanyakan yang beli anak-anak tanggung gitu, coba mulai besok jualannya di depan Sekolah SMA dekat bale desa,” usul anak buah Paman yang pertama.

Yang kedua juga menambahi “Itu kalau suara kentongannya sama kaya kita ya tetep aja orang bakalan ngira itu Bakso yang biasa. Coba ganti dengan suara yang lain”.

“Suara kentongan maksudmu ini kentongan yang beneran gitu. Dari bambu?” tanya Sang paman menuntut penjelasan lebih konkret kepada yang kedua.

“Itu kamu tau gak, Si Tukang Putu kentongannya pake spiker (re: speaker) yang diputerin lagu-lagu campur sari. Kamu ada HP to? Coba merekam suaramu sendiri, triak triak ‘bakso bakar-bakso bakar’ gitu. Siapa tau lebih gampang ditandai.” Usul yang pertama.

Sang Paman sumringah mendengarkan usul itu. “Lho iku apik juga idemu. Ketimbang kowe pake buat dengerin lagu dije gak bermutu. Mending itu spiker kowe kasi ke Bujang”

“Lho yo kok ngono, Bos. Iku aku beli dari hasil kerja kerasku kok. Ojo pelit-pelit lah ke ponakane dewe.” Timpal yang pertama berupaya menyelamatkan properti pribadinya.

“Yo nanti kalo sudah dapet yang baru punya kowe dibalikin. Kalo mau cepet masa harus ke kota dulu. Ngenteni hari pasar dulu masih minggu depan yo lama”

“Wes Pak Lek sekarang juga tak pesen pake Bukalapak. InshaAllah besok sudah dikirim dari Padang. Kurang lebih sehari yo sampe.” Kata Si Bujang berusaha mengakhiri perdebatan.

“Oh iso ngono tah?” Kata Sang Paman yang asing dengan perniagaan daring. “Yo wes pesen aja nanti tak kasi uang.”

Cerita melompat ke tiga hari setelah diskusi yang sebelumnya dituliskan.

Bujang sudah berdiri seperempat jam sebelum bel istirahat sesi pertama berbunyi. Di halaman depan SMA itu terdapat lapangan sepakbola. Nampak beberapa pekerja sedang memasang tiang umbul-umbul sponsor dari salah satu perusahan minuman berenergi. Sebentar lagi akan berlangsung turnamen sepakbola antar klub se kabupaten Agam. Diantara lapangan dan kampus SMA ada jalan yang mana para pedagang berjejer menanti mangsanya.

Bel tanda istirahat berbunyi selama 30 menit. Untuk pertama kalinya dagangan Bujang ludes. Bujang kembali ke markas dan mengisi kembali gerobaknya dengan stok dagangan yang baru. “Aku mau coba jualan di lapangan, Pak Lek. Siapa tau yang nonton bola juga doyan sama bakso bakar”. Sang paman hanya mengacungkan Ibu Jari.


Kedua

Setengah musim turnamen sepakbola sudah berlangsung. Omset Bujang sudah naik lima kali dibandingkan dengan hari pertama jualannya. Di kampung-kampung, dagangannya juga laku. Bujang bersenang hati. Tapi sepertinya bukan hanya itu yang membuatnya selalu tak sabar untuk menanti esok hari.

“Mulai besok ada dua orang yang ganti jualan jadi bakso bakar.” Ucapku pada Bujang pagi ini. “Nggeh, Pak Lek. Kalo bisa aku jualannya tetep di SMA sama di lapangan pas ada pertandingan nggih?” pinta Si Bujang. Tentunya aku tak bermaksud menciptakan persaingan seorganisasi antara Bujang dengan anak buahku yang lain, “Yo iyo to, le. Kowe tetep jualan di tempatmu biasa. Yang lain tak suruh cari tempat baru”. Si Bujang mengangkat jempol menirukan kebiasaanku dan pergi.

Kabar dari anak buahku, juga beberapa padagang lainnya bilang bujang sering berbincang dengan salah seorang gadis SMA ketika sedang menjajakan dagangannya. Mereka bertemu kadang di jam istirahat sesi satu, ketika jam pulang sekolah, atau kadang saat sedang berlangsung pertandingan sepak bola. “Kenalkan ke aku to, Jang. Sopo ngerti Kakaknya apa siapanya cantik juga,” gurau pekerjaku yang kedua. “Kenalkan ke Pak lek lho sopo tau Pak Lek sudah buru-buru pengen punya cucu,” tambah pekerjaku yang pertama.

Aku senang-senang aja. Dulu aku juga semangat dagang karena aku selalu kepengen lewat depan rumah Bu Lek mu meskipun rumahnya jauh. Justru karena jauh itu, aku sering sampe di rumahnya pas daganganku sudah habis. Mangkanya aku paham kalau Bu Lek mu juga cinta ke Aku karena Bu Lek mu pas masih gadis tetep aja ngobrol sama Pak De padahal gak kebagian Bakso. Tapi yo aku khawatir, semoga mentalmu setangguh yang aku kenal selama ini. Soalnya gadis itu nggak sama kaya Bu Lekmu......

Ketiga-Ending

“Hari ini nggak ada pertandingan lagi kan?” Tanya Sang Paman.

“Iyo Pak Lek. Minggu lalu udah final. Yang menang muko-muko,” Respon Si Bujang.

“Yo wes hari ini kamu gak usah jualan. Kamu ke sini, ada orderan untuk acara pernikahan. Nanti disana kamu melayani tamu-tamu kondangan yang mau makan bakso bakar.” Perintah Sang Paman sembari memberikan denah lokasi acara.

Cerita melompat ke tempat acara pernikahan tersebut.

Bujang merasa beruntung. Dirinya tak perlu melihat seberapa meriah orang-orang pelaminan. Bujang dengan senang hati melayani tamu undangan karena makanannya adalah yang paling diminati diantara banyaknya jenis-jenis makanan yang disediakan untuk menjamu tamu pesta pernikahan anak laki-laku semata wayang kepala adat. Bujang melayani mereka semua dengan semangat meski mungkin nanti malam Bujang akan menangis mengetahui sang mempelai lelaki adalah orang yang merebut wanita pujaannya. ..

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selewat Kisah Sebutir Nasi Yang Menangis

Tempo lalu aku makan di salah satu restoran mahal yang berada di mall mewah di Jakarta. Pamer dikit ya, resto itu mengusung konsep ‘all you can eat’. Restoran yang sedari awal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah makan disana kecualli dibayarin, dan tentunya yang kemarin itu dibayarin oleh salah satu klien kantor. Mau tau kenapa aku berjanji demikian? Sedari awal aku memang udah punya persepsi kurang baik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘all you can eat’ dan gak hanya berlaku untuk restoran. Termasuk makanan yang ada di acara-acara penting yang banyak makanannya tentunya. Dan benar saja persepsiku. Pas aku antri makanan, aku kaya lihat segerombolan manusia yang ‘kok agak kurang punya kebudayaan dan belum pernah mengenal peradaban’. BARBAR KALI! Semua mau diambil dan semua mau dimakan. Alasannya sederhana lah. Karena sudah bayar sekian ratus ribu dengan waktu yang dibatasi selama 90 menit, yang makan disana harus memaksimumkan kepuasan den...

Masalah Lebih Cepat Datang Kepada Mereka Yang Tidak Diam

Suatu hari aku duduk menghadap secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek bersama temanku. Kita tenggelam di suatu pergibahan mengenai kesialan seorang teman. Dia yang kami perbincangkan ini menghadapi perkara yang tidak terduga bisa disandungnya. “Hidup gini amat yak” kata lawan bincangku. Kalimat itu adalah gambaran umum tentang hidup yang harus tersandung masalah. Namanya kesandung ya kesel campur kaget. Siapa sajakah mereka yang kesandung? Tentu syarat pertama untuk bisa kesandung adalah berjalan, berlari,  atau bergerak kedepan.  Perkara kedua adalah ketiadaan waspada. Entah karena memang kurang waspada atau gerak jalannya terlalu cepat. Seperti kata temanku, “Dia udah nekat banget sih.” Cuplikan ini menghantarkan aku kembali ke beberapa memori. Dulu ketika aku sedang megamen di sekitar bundaran Hotel Indonesia, temanku nekat mengambil uang dari  dashboard  metromini yang ditinggal supirnya beradu debat dengan mobil yang menabrak dari belakan...