“Tepat setelah pematang sawah ini ada
gedung itu,” ucapku pada diri sendiri yang menyebut itu karena hanya aku yang
tau makna daripada “Itu”. Tidak ada yang tau bagaimana menjelaskan asal usul
dan identitas gedung kecil nan reot itu, pun tiada kepentingannya. Ia hanyalah gedung
kecil, berdiri sendiri di pinggir jalan yang membelah pematang sawah milik
pemerintah desa dan membelakangi sungai irigasi. Ia bisa hilang kapan saja, entah
hanyut karena longsor atau di rubuhkan untuk kepentingan penambahan kapasitas
jalan. Pun aku tiada punya kesan tersendiri untuk membahas gedung itu, tiada
sedikitpun aku punya hak atau pengorbanan atas berdirinya gedung itu, kecuali
satu hal.
Setiap siang sewaktu ku duduk
menuntut ilmu di sekolah dasar, aku memerlukan diri untuk berjalan kaki sejauh
dua kilometer menuju rumahku, setiap siang di terik yang indah menghangatkan
atau hujan yang menyejukan. Aku selalu berjalan dalam suatu gerombolan besar
anak-anak ingusan dengan baju seragam yang sudah lusuh karena keringat dan noda
bola kaki. Gerombolan itu akan semakin berkurang dan berkurang hingga tersisa tiga orang,
Aku – Tata – dan seorang bujang yang belum ku kenal. Sejatinya masa kecilku
adalah anak bujang yang pemalu, yang tak akan memulai untuk berinteraksi dengan
orang baru.
Suatu ketika, segerombolan besar kami
pulang lebih cepat karena kakiku terluka dan berlumuran darah akibat menendang
tunggul akar beringin, alih-alih menendang bola dengan tepat ke arah penyerang
timku – Tata - yang sudah siap di depan
gawang lawanku. Siang itu karena aku tak cukup sanggup untuk berjalan terus
menerus menuju pulang, aku beristirahat sejenak, di gedung kecil reot itu. Gedung
itu baru kusadari adanya akibat ketidak-berdayaanku untuk berjalan secara
normal. Tata sudah memisahkan diri berbelok ke arah jalan setapak menuju
dusunnya, itu karena aku memaksanya agar tak perlu repot-repot mengantarku
pulang. Maka disana aku berkenalan dengan anak itu.
“Senen,” katanya mengenalkan diri di
gedung itu. Astaga! Ku kira nama seperti itu tak akan pernah diberikan lagi
pada anak-anak yang lahir pada akhir era 90an. “Kamu ndak bakal kuat jalan
lagi, aku akan coba panggil Pak Lek ku di sebelah sana. Kamu tunggu sini ya,”
Dia berkata, lalu pergi tanpa menunggu respon apapun dariku. Lima menit sudah
berlalu, begitu terasa lama untuk anak manja pada masa kecilku. Ia meninggalkan
termos es berwarna biru pudar. Aku iseng saja membuka termos itu, dan ternyata
di dalamnya ada dua plastik kecil nan panjang berisi es lilin yang mencair tapi
masih dingin. Aku haus dan tanpa permisi mengambil dua plastik itu. Senen
kembali saat aku sedang mengulum bungkus terakhir es itu bersama seseorang
bertopi caping yang membawa sepeda onta. “Senen, maaf ya aku sudah memakan es
punya kamu,” sambutku. “Ndak apa tapi jangan lupa bayar ya, itu daganganku”.
Aku keluarkan uang, memberikannya, dan kemudian pergi bersama pamannya yang
bersedia mengantarku pulang.
Sejak itu kami kenal memiliki
kebiasaan baru, menepi di gedung reot itu baik panas atau hujan. Kadang aku
masih kebagian es lilin dagangannya kadang kala tidak. Kemudian aku memintanya
untuk menyisakan dua buah untukku setiap hari. Kami saling bercerita. Tapi
sebagai anak yang pendiam, ketika itu aku lebih banyak menerima cerita darinya.
Dia pernah bercerita tentang perusahaan pengelolaan kayu yang sedang pesat di
dusunnya. Orang-orang di dusunnya menebang kayu dari hutan dan mengolahnya
menjadi berbagai produk. Dia juga pernah bercerita soal beberapa warga di dusunnya
yang tidak mendapatkan upah pekerjaan sebagai buruh tani di sawah bengkok milik
Kepala Desa, termasuk ibunya. Ayahnya, merantau ke Kalimantan dan tak pernah
ada kabar. Mungkin sudah punya uang dan menikah lagi. Mungkin mati diterkam buaya.
“Ndak tau juga,” katanya.
Suatu sore, Senen ingin aku
menemaninya ke sungai, angon sapi. Sebetulnya aku takut dengan sapi. Tapi aku
tak mau menyinggungnya dan berpura-pura menyukainya. Sore itu kami bertemu di
persimpangan dusun. Dari situ kami berjalan bersama-sama menuju ke Sungai yang
tepat berada di lereng bukit. Ada air terjun yang indah disana, tinggi dan
deras airnya. Disana juga sudah banyak anak-anak yang angon. Sapi dibiarkan
makan rumput sementara kami mengawasinya dari jauh. Senen menceritakan bahwa
upah daripada mengangon sapi cukup untuk membeli beras dan lauk makan untuk
sehari. Ada tiga sapi yang diangonnya. Semuanya besar-besar dan nampak kuat
karena terlatih membajak sawah.
Senja telah menjadi keemasan, semua
sapi sudah kenyang makan banyak dan sudah mandi berendam di sungai. Kini sudah
waktunya pulang. “Naiklah!” Kata Senen kepadaku. Aku tak mau dengan beribu
dalih. Tapi Senen begitu bersemangat karena Ia ingin agar aku tak lelah
berjalan kaki menuju pulang dalam sebuah perjalanan yang menanjak. Aku akhirnya
pasrah saja dan naik ke atas sapi terbesarnya. Belum lagi mapan kedudukanku,
Sapi itu sudah mengamuk merasa tak nyaman. Aku terjatuh, menangis, dan lari
begitu saja meninggalkan Senen.
Sejak saat itu aku diam tak bicara dengan
Senen. Tak juga sekedar menyapa atau mengajaknya bergabung dengan permainan
bola kaki di Sekolah. Lama rasanya aku diam. Meski rasa kesalku sudah hilang,
kini rasa itu justru menjadi canggung sebab Senen tak pernah meminta maaf. Setelah
aku dewasa kini aku sadar, meminta maaf tak pernah ada dalam kamus pergaulan di
desa ini. Jika hari ini bertengkar, esok pun sudah tertawa bersama lagi. Sialnya
aku dididik untuk meminta maaf jika berbuat salah dan bagiku Senen melakukan
kesalahan. Hingga kita lulus sekolah, dan aku terbang ke Australia untuk tidak
kembali dalam waktu dekat. Tanpa berpamitan dengan Senen..
Dan kini aku kembali kemari, ada rasa
ingin bertemu denganmu di gedung yang kini semakin reot itu. Aku tak tau
rumahmu dimana dan kepada siapa aku bisa menanyakan keberadaanmu. Mungkin kau
sudah ke Kalimantan, atau entah kemana.
Komentar
Posting Komentar