Langsung ke konten utama

Masalah Lebih Cepat Datang Kepada Mereka Yang Tidak Diam


Suatu hari aku duduk menghadap secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek bersama temanku. Kita tenggelam di suatu pergibahan mengenai kesialan seorang teman. Dia yang kami perbincangkan ini menghadapi perkara yang tidak terduga bisa disandungnya.

“Hidup gini amat yak” kata lawan bincangku. Kalimat itu adalah gambaran umum tentang hidup yang harus tersandung masalah. Namanya kesandung ya kesel campur kaget. Siapa sajakah mereka yang kesandung? Tentu syarat pertama untuk bisa kesandung adalah berjalan, berlari,  atau bergerak kedepan. 

Perkara kedua adalah ketiadaan waspada. Entah karena memang kurang waspada atau gerak jalannya terlalu cepat. Seperti kata temanku, “Dia udah nekat banget sih.” Cuplikan ini menghantarkan aku kembali ke beberapa memori.

Dulu ketika aku sedang megamen di sekitar bundaran Hotel Indonesia, temanku nekat mengambil uang dari dashboard metromini yang ditinggal supirnya beradu debat dengan mobil yang menabrak dari belakang. Demi membayar biaya bersalin istri adalah motifnya.

Ada juga temanku yang harus menenggak sepuluh pil koplo demi menghilangkan rasa malu ketika mengamen menggunakan kecrekan sebagai satu-satunya alat musik yang dikuasainya. Hanya itu pekerjaan yang bisa memberikan jaminan pendapatan yang cukup untuk mencicil hutang-hutang orang tuanya di kampung.

Keterpaksaan seringkali menjadi alasan mengapa seseorang harus mengambil langkah yang terlalu beresiko. Seperti sedang dikejar anjing galak, orang berlari tak lagi peduli pada segala sesuatu yang mungkin bisa mencelakainya di depan. Resiko juga melekat kepada mereka yang selangkah di depan, yang percaya bahwa ada hasil yang bisa diraihnya dan tidak bisa diraih oleh orang lain. Terpaksa atau tidak, mereka yang berlari bisa tersandung dan tersungkur kapan saja.

Pemain sekaliber Cristiano Ronaldo misalnya, harus mengalami berbagai cidera ringan hingga patah tulang. Berkali-kali jatuh, tersungkur, cidera, dan bangun lagi membuatnya mengenali pola terbaik untuk segera bangkit dan kembali berlaga. Dari kopas.com, Ronaldo telah mengalami cidera sebanyak lima kali namun tak pernah absen lebih dari dua laga.

Masalah akan datang kepada siapapun dan kapanpun. Jika masalah adalah benda yang berbaris dan bergerak konstan dari arah depan, mereka yang berjalan – apalagi berlari – akan menemui masalahnya lebih cepat dan lebih banyak daripada mereka yang diam. Bagi mereka yang bermental baja, tersandung dan tersungkur bisa menjadi pelajaran penting untuk mengenali pola masalah. Syaratnya hanya satu, tidak pernah lelah untuk berdiri dan berlari lagi.

Mereka yang diam, tentu menghadapi lebih sedikit sandungan dan mendapatkan hasil – pelajaran, pendapatan, imbal hasil, makna hidup, atau harta-tahta-pria – lebih sedikit dari mereka yang berlari. Mereka yang diam menghapal lebih banyak kemungkinan masalah tanpa bisa menghadapi dan mengenali polanya. Hapalan itu didapatkan dan ditanamkan dalam-dalam dari pelbagai gibahan warung kopi macam aku dan kawanku ini – huh dasar aku.

Dan jika kamu sedang ada masalah yang ditandai dengan stress, depresi, sedih, lelah, whatever you name it lah. Lihat ke belakang. Mungkin kamu – dan aku wakakak – sedang ingin menyelesaikan atau mendapatkan sesuatu entah karena terpaksa atau sedang berlomba-lomba. Intinya jangan berhenti karena kamu sedang mengenali polannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selewat Kisah Sebutir Nasi Yang Menangis

Tempo lalu aku makan di salah satu restoran mahal yang berada di mall mewah di Jakarta. Pamer dikit ya, resto itu mengusung konsep ‘all you can eat’. Restoran yang sedari awal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah makan disana kecualli dibayarin, dan tentunya yang kemarin itu dibayarin oleh salah satu klien kantor. Mau tau kenapa aku berjanji demikian? Sedari awal aku memang udah punya persepsi kurang baik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘all you can eat’ dan gak hanya berlaku untuk restoran. Termasuk makanan yang ada di acara-acara penting yang banyak makanannya tentunya. Dan benar saja persepsiku. Pas aku antri makanan, aku kaya lihat segerombolan manusia yang ‘kok agak kurang punya kebudayaan dan belum pernah mengenal peradaban’. BARBAR KALI! Semua mau diambil dan semua mau dimakan. Alasannya sederhana lah. Karena sudah bayar sekian ratus ribu dengan waktu yang dibatasi selama 90 menit, yang makan disana harus memaksimumkan kepuasan den...

Bujang

Kisah ini terjadi bersamaan dengan eksistensimu di dunia ini. Tepatnya pada tahun-tahun dimana pengguna aplikasi chat whatsapp belum didominasi oleh bapak-bapak cabul yang doyan share foto syur biduan-biduan klub dangdut orkes melayu. Kesatu Diceritakan seorang pemuda, ganteng-ganteng sedang (GGS) berhidung mancung, beralis tebal, berkumis tipis, dan memiliki beberapa jerawat karena jarang cuci muka sampai di sautu daerah yang baru dikenalnya. Daerah ini terletak di bagian barat pulau Sumatera bernama Lubuk Basung. Kedatangannya bermaksud untuk memenuhi undangan dari paman jauh yang konon katanya sudah sukses di tanau rantau dengan perniagaannya. Paman-kemenakan itu bertemu di terminal kabupaten. Setelah saling rangkul dan menanggalkan kerinduan, sang paman langsung mengajak ke lokasi utama tempat operasional perniagaannya berlangsung yang berjarak 30 menit perjalanan motor ke arah pegunungan. Takjub betul si bujang tanggung ketika sampai di TKP. Warung besar berbentuk ru...