Langsung ke konten utama

GINI LOH RASANYA SEKOLAH DI ALAM TERBUKA

Pelajaran pertama yang aku dapatkan di sekolah rakapare-bahkan ketika sekolah ini belum dimulai-adalah bagaimana mengatasi kebiasaan/memiliki negative first impression kepada orang yang baru dikenal. Selama ini aku selalu punya hal tersebut dan selalu salah. Seperti kembali ospek ketika masih mahasiswa baru, aku mengulang sebagian tugas Ospek seperti berkenalan, membuat buku angkatan-maaf belum di perbaiki hehe-, dan bekerjasama dengan teman-teman baru. Tidak lupa menganai pentingnya berpikir positif. Apalagi ketika mengetahui bahwa aku tinggal di salah satu rumah warga bersama 14 orang teman baruku kecuali Farush. Awalnya mau sok ide bikin pembagian tugas. Lama-kelamaan tugas itu dikerjakan saja seikhlasnya apapun itu. Lingkungan desa yang sangat asri membuat suasana berbeda. Hal ini memudahkan aku untuk meninggalkan kebiasaan buruk di kota yang malas-malasan menjadi lebih mudah. Setiap hari bangun pagi-pagi untuk membantu orang tua asuh disana. Memasak, mencuci piring, membereskan rumah, berladang, dan lain sebagainya.

            Seperti mendapat anugrah terindah waktu itu. Tinggal dengan 14 orang teman baru yang beragam dan aneh-aneh seperti Hanza si Maba calon dosen *haha, Mas Aji yang dewasa banget, Kak Samsul dengan “pisau analisisnya”. Ceng Melfin yang ternyata kocak, Si manis Farush yang sama-sama dari Sekolah Mater-yang ini teman lama, Adri yang cerita hidupnya inspiring, Tama yang suka manja *ampun ma!!, Randi *serah lau aje dah, Kang Rivo dan Kang Aziz yang cukup pendiam, Raihan yang udah mau nebengi kamar kosan abis sekolah, Gigih dari Bali si maba yang dewasa banget, dan terakhir Kang Martin si Papi yang gagal-hahaha.

            Seperti tak pernah kehabisan bahan untuk dibicarakan. Selalu ada saja cerita untuk dibagi. Sambil ngelinting mole, ngopi, makan gorengan, obrolan terus berlanjut. Mereka juga adalah anak-anak yang rajin dan mau diajak kerja keras. Cerita hidup mereka juga beragam dan sangat menginspirasi. Orang tua asuh kami, Bapak dan Ibu Anem adalah orang tua yang sangat sabar. Mereka seperti tak pernah lelah memenuhi kebutuhan kami. Ala orang des    a yang begitu damai, mereka mengajarkanku untuk tidak berpikir terlalu banyak jika ingin membantu sesama.

            Ada hal menarik lainnya ketika aku datang pertama kali ke Desa Sunten Jaya. Toilet disana kebanyakan milik bersama yang ditempatkan di dekat kandang sapi. Aku pernah membaca bahwa MCK milik bersama itu bermaksud agar ada interaksi secara rutin antar penduduk suatu desa. Hari ke-dua di sana langsung aku merasakan hal tersebut. Ketika sama-sama mengantri itulah aku berinteraksi dengan warga juga teman-teman sekolah rakapare yang kebetulan ingin ke toilet. Hal lain yang sedikit di luar ekspetasi adalah sebelum aku berangkat ke Bnadung aku berniat untuk mengurangi merokok. Eh, taunya sampai disana merokok menjadi hal yang sangat menyenangkan dan menambah erat pertemanan. Teruntuk para pemateri sekolah rakapare 4, awalnya kukira mereka adalah orang-orang yang sangat serius dalam bersikap. Tapi rupanya, ya gitu deh. Apapun bisa jadi bahan lawakan. Seru juga sih. Karena dengan latar belakang, keyakinan, dan pendapat yang berbeda-beda, permasalahan itu tak selalu harus diselesaikan dengan cara-cara yang  tegang dan membuat perbedaan semakin menimbulkan perpecahan. Selamat ya buat Safarush Sobandi yang akhirnya menjadi ikon Sekolah Rakapare 4.


            Teruntuk para pemateri. Awalnya aku kira mereka semua sudah cukup berumur karena mereka pintar-pintar. Ternyata mereka semua masih muda-muda tapi mereka sudah belajar banyak dan berbuat banyak. Khusus buat Mentor Aing Kang Idam yang sudah mengajarkan apa itu egois dan cara-cara untuk meminimalisir itu. Terimakasih. Dan itu aja lah kang aing lieur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selewat Kisah Sebutir Nasi Yang Menangis

Tempo lalu aku makan di salah satu restoran mahal yang berada di mall mewah di Jakarta. Pamer dikit ya, resto itu mengusung konsep ‘all you can eat’. Restoran yang sedari awal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah makan disana kecualli dibayarin, dan tentunya yang kemarin itu dibayarin oleh salah satu klien kantor. Mau tau kenapa aku berjanji demikian? Sedari awal aku memang udah punya persepsi kurang baik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘all you can eat’ dan gak hanya berlaku untuk restoran. Termasuk makanan yang ada di acara-acara penting yang banyak makanannya tentunya. Dan benar saja persepsiku. Pas aku antri makanan, aku kaya lihat segerombolan manusia yang ‘kok agak kurang punya kebudayaan dan belum pernah mengenal peradaban’. BARBAR KALI! Semua mau diambil dan semua mau dimakan. Alasannya sederhana lah. Karena sudah bayar sekian ratus ribu dengan waktu yang dibatasi selama 90 menit, yang makan disana harus memaksimumkan kepuasan den...

Masalah Lebih Cepat Datang Kepada Mereka Yang Tidak Diam

Suatu hari aku duduk menghadap secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek bersama temanku. Kita tenggelam di suatu pergibahan mengenai kesialan seorang teman. Dia yang kami perbincangkan ini menghadapi perkara yang tidak terduga bisa disandungnya. “Hidup gini amat yak” kata lawan bincangku. Kalimat itu adalah gambaran umum tentang hidup yang harus tersandung masalah. Namanya kesandung ya kesel campur kaget. Siapa sajakah mereka yang kesandung? Tentu syarat pertama untuk bisa kesandung adalah berjalan, berlari,  atau bergerak kedepan.  Perkara kedua adalah ketiadaan waspada. Entah karena memang kurang waspada atau gerak jalannya terlalu cepat. Seperti kata temanku, “Dia udah nekat banget sih.” Cuplikan ini menghantarkan aku kembali ke beberapa memori. Dulu ketika aku sedang megamen di sekitar bundaran Hotel Indonesia, temanku nekat mengambil uang dari  dashboard  metromini yang ditinggal supirnya beradu debat dengan mobil yang menabrak dari belakan...

Bujang

Kisah ini terjadi bersamaan dengan eksistensimu di dunia ini. Tepatnya pada tahun-tahun dimana pengguna aplikasi chat whatsapp belum didominasi oleh bapak-bapak cabul yang doyan share foto syur biduan-biduan klub dangdut orkes melayu. Kesatu Diceritakan seorang pemuda, ganteng-ganteng sedang (GGS) berhidung mancung, beralis tebal, berkumis tipis, dan memiliki beberapa jerawat karena jarang cuci muka sampai di sautu daerah yang baru dikenalnya. Daerah ini terletak di bagian barat pulau Sumatera bernama Lubuk Basung. Kedatangannya bermaksud untuk memenuhi undangan dari paman jauh yang konon katanya sudah sukses di tanau rantau dengan perniagaannya. Paman-kemenakan itu bertemu di terminal kabupaten. Setelah saling rangkul dan menanggalkan kerinduan, sang paman langsung mengajak ke lokasi utama tempat operasional perniagaannya berlangsung yang berjarak 30 menit perjalanan motor ke arah pegunungan. Takjub betul si bujang tanggung ketika sampai di TKP. Warung besar berbentuk ru...