Hari pertama ketika saya mengikuti kelas
intensif kami ditanya mengenai jurusan apa yang akan kami ambil, saya masih
membawa idealism saya ketika saya masih SMP untuk mengambil jurusan arsitektur
interior, karena ketika saya smp saya sangat menyukai peajaran Fisika dan
muatan lokal Tehnik bangunan di SMPN 22 Bandarlampung. Namun saya sadar di
sekolah tempat saya berada saya tidak pernah sekalipun mempelajari pelajaran
saintek lagi. Di masa-masa itulah saya merasa bimbang dengan jurusan apa yang
akan saya ambil kemudian. Waktu berlalu banyak interaksi terjadi hingga hati
saya condong untuk mempelajari ekonomi secara makro. Akhirnya, kebimbangan saya
menyempit diantara dua pilihan, apakah Ilmu Ekonomi atau Ilmu Ekonomi Islam.
Para pengajar yang tergabung di program Master
FE UI berangkat dari para mahasiswa yang peduli betapa pentingnya pendidikan
dan merasa prihatin dengan kondisi kami yang tak banyak memiliki pengetahuan
tentang kehidupan perkuliahan meski kami hidup di tengah pusat peradaban
Indonesia. Mereka begitu antusias dan penuh keyakinan bahwa suatu saat kami
dapat meraih mimpi kami masig-masing. Mereka kami anggap seperti kakak-kakak
kami sendiri karena segala hal mereka kerahkan untuk membimbing kami. Bahkan
mereka rela mengeluarkan uang dari kantong pribadi hanya untuk sekedar
memberikan kami semangat seperti membelikan makanan atau minuman.
Tanggal 9 Mei 2015, pembukaan pendaftaran
SBMPTN tiba. Lagi-lagi saya harus dihadapkan kepada kebimbangan terbesar dalam
hidup saya. Apakah saya akan mengambil jurusan Ilmu Ekonomi atau Ilmu Ekonomi
Islam. Ditambah lagi nilai tryout sya yang menurut saya masih jauh dari
memuaskan sempat membuat saya tidak percaya diri. Dengan keyakinan penuh dan
doa kepada Allah SWT, saya memantapkan diri mengambil jurusan Ilmu Ekonomi
Islam.
Rasa kecewa sempat menghampiri saya ketika
tinggal dua minggu lagi kami akan SBMPTN, program kelas intensif harus berakhir
karena para pengajar harus mulai fokus untuk menghadapi Ujian Akhir Semester.
Dengan penuh rasa penyesalan mereka harus merelakan kami mempersiapkan diri
kami sendiri untuk menghadapi SBMPTN. Selama dua minggu itu saya mempelajari
sendiri apa yang pernah pengajar berikan kepada kami. Justru ketika saya
mengulang pelajaran yang pernah diberikan membuat saya yakin dan mantap bahwa
saya siap mengahadi tantangan dan ujian SBMPTN. Namun kami senang, karena
ketika hari pelaksanaan ujian beberapa pengajar mengantar dan mendampingi kami
selama ujian berlangsung. Hal itu memberikan motivasi tersediri bagi saya bahwa
saya harus mampu membuat mereka merasa puas dengan apa yang selama ini mereka
korbankan untuk kami.
Tanggal 9 Juli 2015, hari-hari yang paling
dinantikan datang. Meski saya harus mendekam di tahanan dinsos Cipayung akibat
razia anak jalanan, saya merasa puas bahwasannya saya lulus di jurusan impian
saya. Ilmu Ekonomi Islam. Rasa bangga meliputi kami semua. “darah dan keringat
gue nggak sia-sia” ungkap salah satu pengajar. Kini, saya berada diantara
mereka di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Setelah ini, saya
akan melanjutkan tugas mereka, membantu adik-adik kami meraih mimpi mereka dan
merubah masa depan mereka. We work for cause not for applause. Master FEB UI
2015.
menginspirasi banget ceritanya persis ketika pertama kali liat dodo di tv ketika pertama kali masuk UI, apalagi pernah tinggal dilampung, bangga lah saya orang lampung wkwk
BalasHapuskadang orang yang diberi kemudahan kuliah malah malas. big applause for yuor spirit! :)