Pernahkah kalian mengucapkan hal
tersebut? Pernahkah kalian berpikiran demikian ? Berpikir itu menguras banyak
energi. Perkataan seperti ini sering dilontarkan oleh kaum pinggiran. Orang
pinggiran yang dimaksud disini adalah mereka yang memiliki kesulitan finansial,
kesulitan untuk mengakses layanan sosial, kesulitan untuk menempuh pendidikan
dan lain sebagainya. Wajar saja mereka berpikir sedemikian dangkalnya. Sekedar
memenuhi kebutuhan dasar hidup saja susah. Apalagi memikirkan hal-hal lain yang
lebih kompleks. Masalah yang mereka hadapi sesungguhnya sudah kompleks. Namun,
mereka tak sanggup menyelesaikan. Sehingga hal-hal tersebut tidak lagi mereka
pikirkan.
Tentunya berbeda dengan orang-orang
yang mampu mengakses pendidikan, apalagi sampai ke perguruan tinggi. Di
perguran tinggi kita diberikan beragam teori, diberikan atmosfer untuk
berpikir. Apalagi bagi mereka yang kebutuhan dasar tak lagi menjadi persoalan
penting. Kita disuguhi banyak pendapat. Banyak teori. Mengenai ideologi,
peradaban, kemiskinan, kesenjangan dan lain-lain.
Sekarang yang menjadi persoalan
adalah maukah kita meluangkan pikiran dan waktu untuk memikirkannya ? Apakah
kita mau disamakan dengan mereka yang memikirkan hal-hal dangkal seperti itu ?
Apakah masih kita memikirkan mau makan apa, dimana, dengan siapa ? Bukankah
seharusnya kita membantu mereka untuk keluar dari kondisi seperti itu ?
MEMIKIRKAN DISI SENDIRI SAJA TAK
MAMPU, NGAPAIN MIKIRIN ORANG LAIN ?
Sesungguhnya setiap individu tak
akan pernah mampu menyelesaikan kebutuhan pribadinya. Kepuasan seseorang tidak
akan pernah terpenuhi. Maka, cara yang lebih tepat adalah dengan merubah ukuran
pengenain 'kepuasan' itu sendiri. Tak perlu menunggu waktu lama agar Maginal
Utility=0 (puncak kepuasan) untuk berbagi. Karena kepuasan pribadi secara
agregat tidak akan tercapai. Maka dari itu marilah kita memulai untuk memasukan
'membantu orang lain' sebagai salah satu konsumsi.
Komentar
Posting Komentar