Langsung ke konten utama

HIDUP KALO DIPIKIRIN SUSAH

Pernahkah kalian mengucapkan hal tersebut? Pernahkah kalian berpikiran demikian ? Berpikir itu menguras banyak energi. Perkataan seperti ini sering dilontarkan oleh kaum pinggiran. Orang pinggiran yang dimaksud disini adalah mereka yang memiliki kesulitan finansial, kesulitan untuk mengakses layanan sosial, kesulitan untuk menempuh pendidikan dan lain sebagainya. Wajar saja mereka berpikir sedemikian dangkalnya. Sekedar memenuhi kebutuhan dasar hidup saja susah. Apalagi memikirkan hal-hal lain yang lebih kompleks. Masalah yang mereka hadapi sesungguhnya sudah kompleks. Namun, mereka tak sanggup menyelesaikan. Sehingga hal-hal tersebut tidak lagi mereka pikirkan.

Tentunya berbeda dengan orang-orang yang mampu mengakses pendidikan, apalagi sampai ke perguruan tinggi. Di perguran tinggi kita diberikan beragam teori, diberikan atmosfer untuk berpikir. Apalagi bagi mereka yang kebutuhan dasar tak lagi menjadi persoalan penting.  Kita disuguhi banyak pendapat. Banyak teori. Mengenai ideologi, peradaban, kemiskinan, kesenjangan dan lain-lain.

Sekarang yang menjadi persoalan adalah maukah kita meluangkan pikiran dan waktu untuk memikirkannya ? Apakah kita mau disamakan dengan mereka yang memikirkan hal-hal dangkal seperti itu ? Apakah masih kita memikirkan mau makan apa, dimana, dengan siapa ? Bukankah seharusnya kita membantu mereka untuk keluar dari kondisi seperti itu ?

MEMIKIRKAN DISI SENDIRI SAJA TAK MAMPU, NGAPAIN MIKIRIN ORANG LAIN ?

Sesungguhnya setiap individu tak akan pernah mampu menyelesaikan kebutuhan pribadinya. Kepuasan seseorang tidak akan pernah terpenuhi. Maka, cara yang lebih tepat adalah dengan merubah ukuran pengenain 'kepuasan' itu sendiri. Tak perlu menunggu waktu lama agar Maginal Utility=0 (puncak kepuasan) untuk berbagi. Karena kepuasan pribadi secara agregat tidak akan tercapai. Maka dari itu marilah kita memulai untuk memasukan 'membantu orang lain' sebagai salah satu konsumsi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selewat Kisah Sebutir Nasi Yang Menangis

Tempo lalu aku makan di salah satu restoran mahal yang berada di mall mewah di Jakarta. Pamer dikit ya, resto itu mengusung konsep ‘all you can eat’. Restoran yang sedari awal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah makan disana kecualli dibayarin, dan tentunya yang kemarin itu dibayarin oleh salah satu klien kantor. Mau tau kenapa aku berjanji demikian? Sedari awal aku memang udah punya persepsi kurang baik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘all you can eat’ dan gak hanya berlaku untuk restoran. Termasuk makanan yang ada di acara-acara penting yang banyak makanannya tentunya. Dan benar saja persepsiku. Pas aku antri makanan, aku kaya lihat segerombolan manusia yang ‘kok agak kurang punya kebudayaan dan belum pernah mengenal peradaban’. BARBAR KALI! Semua mau diambil dan semua mau dimakan. Alasannya sederhana lah. Karena sudah bayar sekian ratus ribu dengan waktu yang dibatasi selama 90 menit, yang makan disana harus memaksimumkan kepuasan den...

Masalah Lebih Cepat Datang Kepada Mereka Yang Tidak Diam

Suatu hari aku duduk menghadap secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek bersama temanku. Kita tenggelam di suatu pergibahan mengenai kesialan seorang teman. Dia yang kami perbincangkan ini menghadapi perkara yang tidak terduga bisa disandungnya. “Hidup gini amat yak” kata lawan bincangku. Kalimat itu adalah gambaran umum tentang hidup yang harus tersandung masalah. Namanya kesandung ya kesel campur kaget. Siapa sajakah mereka yang kesandung? Tentu syarat pertama untuk bisa kesandung adalah berjalan, berlari,  atau bergerak kedepan.  Perkara kedua adalah ketiadaan waspada. Entah karena memang kurang waspada atau gerak jalannya terlalu cepat. Seperti kata temanku, “Dia udah nekat banget sih.” Cuplikan ini menghantarkan aku kembali ke beberapa memori. Dulu ketika aku sedang megamen di sekitar bundaran Hotel Indonesia, temanku nekat mengambil uang dari  dashboard  metromini yang ditinggal supirnya beradu debat dengan mobil yang menabrak dari belakan...

Bujang

Kisah ini terjadi bersamaan dengan eksistensimu di dunia ini. Tepatnya pada tahun-tahun dimana pengguna aplikasi chat whatsapp belum didominasi oleh bapak-bapak cabul yang doyan share foto syur biduan-biduan klub dangdut orkes melayu. Kesatu Diceritakan seorang pemuda, ganteng-ganteng sedang (GGS) berhidung mancung, beralis tebal, berkumis tipis, dan memiliki beberapa jerawat karena jarang cuci muka sampai di sautu daerah yang baru dikenalnya. Daerah ini terletak di bagian barat pulau Sumatera bernama Lubuk Basung. Kedatangannya bermaksud untuk memenuhi undangan dari paman jauh yang konon katanya sudah sukses di tanau rantau dengan perniagaannya. Paman-kemenakan itu bertemu di terminal kabupaten. Setelah saling rangkul dan menanggalkan kerinduan, sang paman langsung mengajak ke lokasi utama tempat operasional perniagaannya berlangsung yang berjarak 30 menit perjalanan motor ke arah pegunungan. Takjub betul si bujang tanggung ketika sampai di TKP. Warung besar berbentuk ru...