Langsung ke konten utama

Tak Perlu Waktu Lama, Kawan !

Dulu, sebagai bagian dari suatu Negara kita memiliki musuh bersama. Musuh itu adalah musuh negara kita. Mereka adalah yang kita sebut dengan penjajah. Bangsa ini belumlah bersatu ketika itu. Bangsa ini terdifrensiasi dan terstratifikasi. Ada yang bodoh dan ada yang terpelajar. Ada kaum bangsawan dan ada pula kaum jelata. Ada kaum yang peduli dan ada pula kaum yang hanya cuek saja. Ada kaum yang berjuang, namun ada kaum yang justru menjilat kepada para penjajah.

Butuh 350 tahun untuk menyadari penjajah adalah musuh bersama. Sehingga berbagai perbedaan mudah tuk disatukan. Bangsawan tak ragu untuk turun tangan bahu-mambahu bersama rakyat. Rakyat biasa diberikan kesempatan bersuara di meja perundingan. Tak ada pembeda latar belakang kesukuan, kebangsawanan, bahkan ideologi.

Analogi yang bukan pantas sejujurnya. Namun cobalah kita umpamakan menjadi warga negara seperti menjadi mehasiswa. Ketika kita mendapatkan dosen killer ada beberapa mahasiswa yang menerapkan strategi menjilat, dan ada pula yang hanya menggrutu dibelakang. Namun, ada mahasiswa yang secara tidak sadar, bersatu-padu dengan mahasiswa lainnya memberikan performa terbaik agar mendapatkan nilai A yang jarang ia berikan.

Hal yang menjadi persoalan kini, bagaimanakah kita dalam mengahadapi musuh bersama tersebut. Akankah kita berjalan sendiri-sendiri, ataukah bersatu. Berkaca pada perjuangan Bangsa Indonesia dalam mengahadapi penjajah sebagai musuh bersama. Kita kini sudah merdeka secara de facto. Namun, penjajahan telah berevolusi dan tak banyak dari kita yang sadar akan hal tersebut. Perlahan barat mendekte kita melalui rating, hibah, pinjaman, dll.

Kini, di zaman informasi, di zaman dimana ribuan pemuda mampu mengakses pendidikan bahkan sampai ke perguruan tinggi, di zaman negara telah melahirkan cendikiawan ulung dan diplomat handal, haruskah kita menunggu 350 tahun lagi sehingga kita sadar akan musuh bersama itu ? Haruskah kita merasakan pertumpahan darah ? Akankah kita berlaku seolah-olah bodoh, pura-pura buta akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi. Masihkah negara-negara jazirah arab yang telah diberdayai oleh Barat-musuh yang sama dengan kita-masih kurang sebagai contoh. If you want go fast, let you walk alone. If you want go far away, let us walk togather.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selewat Kisah Sebutir Nasi Yang Menangis

Tempo lalu aku makan di salah satu restoran mahal yang berada di mall mewah di Jakarta. Pamer dikit ya, resto itu mengusung konsep ‘all you can eat’. Restoran yang sedari awal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah makan disana kecualli dibayarin, dan tentunya yang kemarin itu dibayarin oleh salah satu klien kantor. Mau tau kenapa aku berjanji demikian? Sedari awal aku memang udah punya persepsi kurang baik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘all you can eat’ dan gak hanya berlaku untuk restoran. Termasuk makanan yang ada di acara-acara penting yang banyak makanannya tentunya. Dan benar saja persepsiku. Pas aku antri makanan, aku kaya lihat segerombolan manusia yang ‘kok agak kurang punya kebudayaan dan belum pernah mengenal peradaban’. BARBAR KALI! Semua mau diambil dan semua mau dimakan. Alasannya sederhana lah. Karena sudah bayar sekian ratus ribu dengan waktu yang dibatasi selama 90 menit, yang makan disana harus memaksimumkan kepuasan den...

Masalah Lebih Cepat Datang Kepada Mereka Yang Tidak Diam

Suatu hari aku duduk menghadap secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek bersama temanku. Kita tenggelam di suatu pergibahan mengenai kesialan seorang teman. Dia yang kami perbincangkan ini menghadapi perkara yang tidak terduga bisa disandungnya. “Hidup gini amat yak” kata lawan bincangku. Kalimat itu adalah gambaran umum tentang hidup yang harus tersandung masalah. Namanya kesandung ya kesel campur kaget. Siapa sajakah mereka yang kesandung? Tentu syarat pertama untuk bisa kesandung adalah berjalan, berlari,  atau bergerak kedepan.  Perkara kedua adalah ketiadaan waspada. Entah karena memang kurang waspada atau gerak jalannya terlalu cepat. Seperti kata temanku, “Dia udah nekat banget sih.” Cuplikan ini menghantarkan aku kembali ke beberapa memori. Dulu ketika aku sedang megamen di sekitar bundaran Hotel Indonesia, temanku nekat mengambil uang dari  dashboard  metromini yang ditinggal supirnya beradu debat dengan mobil yang menabrak dari belakan...

Bujang

Kisah ini terjadi bersamaan dengan eksistensimu di dunia ini. Tepatnya pada tahun-tahun dimana pengguna aplikasi chat whatsapp belum didominasi oleh bapak-bapak cabul yang doyan share foto syur biduan-biduan klub dangdut orkes melayu. Kesatu Diceritakan seorang pemuda, ganteng-ganteng sedang (GGS) berhidung mancung, beralis tebal, berkumis tipis, dan memiliki beberapa jerawat karena jarang cuci muka sampai di sautu daerah yang baru dikenalnya. Daerah ini terletak di bagian barat pulau Sumatera bernama Lubuk Basung. Kedatangannya bermaksud untuk memenuhi undangan dari paman jauh yang konon katanya sudah sukses di tanau rantau dengan perniagaannya. Paman-kemenakan itu bertemu di terminal kabupaten. Setelah saling rangkul dan menanggalkan kerinduan, sang paman langsung mengajak ke lokasi utama tempat operasional perniagaannya berlangsung yang berjarak 30 menit perjalanan motor ke arah pegunungan. Takjub betul si bujang tanggung ketika sampai di TKP. Warung besar berbentuk ru...