Dulu,
sebagai bagian dari suatu Negara kita memiliki musuh bersama. Musuh itu adalah
musuh negara kita. Mereka adalah yang kita sebut dengan penjajah. Bangsa ini belumlah bersatu ketika
itu. Bangsa ini terdifrensiasi dan terstratifikasi. Ada yang bodoh dan ada yang
terpelajar. Ada kaum bangsawan dan ada pula kaum jelata. Ada kaum yang peduli dan
ada pula kaum yang hanya cuek saja. Ada kaum yang berjuang, namun ada kaum yang
justru menjilat kepada para penjajah.
Butuh
350 tahun untuk menyadari penjajah adalah musuh bersama. Sehingga berbagai
perbedaan mudah tuk disatukan. Bangsawan tak ragu untuk turun tangan
bahu-mambahu bersama rakyat. Rakyat biasa diberikan kesempatan bersuara di meja
perundingan. Tak ada pembeda latar belakang kesukuan, kebangsawanan, bahkan ideologi.
Analogi
yang bukan pantas sejujurnya. Namun cobalah kita umpamakan menjadi warga negara
seperti menjadi mehasiswa. Ketika kita mendapatkan dosen killer ada beberapa mahasiswa yang menerapkan strategi menjilat, dan ada pula yang hanya
menggrutu dibelakang. Namun, ada mahasiswa yang secara tidak sadar, bersatu-padu
dengan mahasiswa lainnya memberikan performa terbaik agar mendapatkan nilai A
yang jarang ia berikan.
Hal
yang menjadi persoalan kini, bagaimanakah kita dalam mengahadapi musuh bersama
tersebut. Akankah kita berjalan sendiri-sendiri, ataukah bersatu. Berkaca pada
perjuangan Bangsa Indonesia dalam mengahadapi penjajah sebagai musuh bersama. Kita
kini sudah merdeka secara de facto. Namun,
penjajahan telah berevolusi dan tak banyak dari kita yang sadar akan hal
tersebut. Perlahan barat mendekte kita melalui rating, hibah, pinjaman, dll.
Kini,
di zaman informasi, di zaman dimana ribuan pemuda mampu mengakses pendidikan
bahkan sampai ke perguruan tinggi, di zaman negara telah melahirkan cendikiawan
ulung dan diplomat handal, haruskah kita menunggu 350 tahun lagi sehingga kita sadar
akan musuh bersama itu ? Haruskah kita merasakan pertumpahan darah ? Akankah
kita berlaku seolah-olah bodoh, pura-pura buta akan kemungkinan-kemungkinan
buruk yang mungkin saja terjadi. Masihkah negara-negara jazirah arab yang telah
diberdayai oleh Barat-musuh yang sama dengan kita-masih kurang sebagai contoh. If you want go fast, let you walk alone. If you
want go far away, let us walk togather.
Komentar
Posting Komentar