Langsung ke konten utama

DESA SUNTEN JAYA, SEKOLAH RAKAPARE

Sebenarnya sudah berkali-kali aku hidup di desa yang tenang sunyi tanpa hiruk-pikuk. Tapi ada yang berbeda ketika aku ada di desa ini. Desa tempatku mengikuti Sekolah Rakapare 4. Hal yang membuatnya berbeda adalah karena aku di masa-masa jenuh dan bosan dengan rutinitas kota dan ketidak produktif-anku selama ini. Ditambah lagi aku berkumpul dengan orang-orang hebat dari berbagai daerah, suku, agama, perguruan tinggi, dan ideology yang luar biasa beragam. Disana aku tak hanya berlibur dan menghabiskan waktu selama seminggu tanpa sinyal operator seluler dan faslitas yang biasa aku rasakan di kota.

Di desa ini aku bertemu dengan orang tua baru yang hidup dengan damai dan sederhana. Kakek dan Nenek Anem. Seminggu mereka menampung kami berlima belas dalam satu rumah, mengajak kami berladang sayuran dan mengerjakan rutinitas desa yang sangat kontras dengan rutinitas kota. Warga di desa ini menggantungkan hidup dari berladang dan ada juga yang berternak sapi perah. Sayangnya mereka bukanlah tuan di rumah sendiri. Kebanyakan warga disana menyewa tanah untuk berladang dan memelihara sapi yang bukan milik mereka sendiri.

Desa Sunten Jaya juga merupakan tempat kami, siswa-siswi Sekolah Rakapare belajar mengenai kerendahan hati, mengenali diri sendiri dan hakikat seorang manusia. Memahami apa arti terpelajar dan tanggung jawab seorang terpelajar. Belajar mengenai berbagai macam perbedaan ideologi dan cara-cara mengatasi konflik. Mengetahui siapa yang harus kita hadapi untuk menjawab perkembangan zaman.


Perkembangan terakhir yang kudengar mengenai Desa Sunten Jaya kini lahan yang digarap sebagian besar masyarakatnya sedang menghadapi konflik dengan perusahaan perkebunan. Semoga teman-teman Komune Rakapare Bandung bisa terus mengawal dan mendampingi orang tua kami disana. Kami akan sering bertemu disana. Di sana seperti rumah kami. Desa yang begitu damai dan tentram.

Komentar

  1. lagi googling tentang rakapare 4 kemaren, eh nyampe ke blognya Dodo.
    saya belum nulis tentang Rakapare euy.

    maen ke blog saya Do: ilmyirfan.wordpress.com sama irfanilmy.tumblr.com

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selewat Kisah Sebutir Nasi Yang Menangis

Tempo lalu aku makan di salah satu restoran mahal yang berada di mall mewah di Jakarta. Pamer dikit ya, resto itu mengusung konsep ‘all you can eat’. Restoran yang sedari awal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah makan disana kecualli dibayarin, dan tentunya yang kemarin itu dibayarin oleh salah satu klien kantor. Mau tau kenapa aku berjanji demikian? Sedari awal aku memang udah punya persepsi kurang baik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘all you can eat’ dan gak hanya berlaku untuk restoran. Termasuk makanan yang ada di acara-acara penting yang banyak makanannya tentunya. Dan benar saja persepsiku. Pas aku antri makanan, aku kaya lihat segerombolan manusia yang ‘kok agak kurang punya kebudayaan dan belum pernah mengenal peradaban’. BARBAR KALI! Semua mau diambil dan semua mau dimakan. Alasannya sederhana lah. Karena sudah bayar sekian ratus ribu dengan waktu yang dibatasi selama 90 menit, yang makan disana harus memaksimumkan kepuasan den...

Masalah Lebih Cepat Datang Kepada Mereka Yang Tidak Diam

Suatu hari aku duduk menghadap secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek bersama temanku. Kita tenggelam di suatu pergibahan mengenai kesialan seorang teman. Dia yang kami perbincangkan ini menghadapi perkara yang tidak terduga bisa disandungnya. “Hidup gini amat yak” kata lawan bincangku. Kalimat itu adalah gambaran umum tentang hidup yang harus tersandung masalah. Namanya kesandung ya kesel campur kaget. Siapa sajakah mereka yang kesandung? Tentu syarat pertama untuk bisa kesandung adalah berjalan, berlari,  atau bergerak kedepan.  Perkara kedua adalah ketiadaan waspada. Entah karena memang kurang waspada atau gerak jalannya terlalu cepat. Seperti kata temanku, “Dia udah nekat banget sih.” Cuplikan ini menghantarkan aku kembali ke beberapa memori. Dulu ketika aku sedang megamen di sekitar bundaran Hotel Indonesia, temanku nekat mengambil uang dari  dashboard  metromini yang ditinggal supirnya beradu debat dengan mobil yang menabrak dari belakan...

Bujang

Kisah ini terjadi bersamaan dengan eksistensimu di dunia ini. Tepatnya pada tahun-tahun dimana pengguna aplikasi chat whatsapp belum didominasi oleh bapak-bapak cabul yang doyan share foto syur biduan-biduan klub dangdut orkes melayu. Kesatu Diceritakan seorang pemuda, ganteng-ganteng sedang (GGS) berhidung mancung, beralis tebal, berkumis tipis, dan memiliki beberapa jerawat karena jarang cuci muka sampai di sautu daerah yang baru dikenalnya. Daerah ini terletak di bagian barat pulau Sumatera bernama Lubuk Basung. Kedatangannya bermaksud untuk memenuhi undangan dari paman jauh yang konon katanya sudah sukses di tanau rantau dengan perniagaannya. Paman-kemenakan itu bertemu di terminal kabupaten. Setelah saling rangkul dan menanggalkan kerinduan, sang paman langsung mengajak ke lokasi utama tempat operasional perniagaannya berlangsung yang berjarak 30 menit perjalanan motor ke arah pegunungan. Takjub betul si bujang tanggung ketika sampai di TKP. Warung besar berbentuk ru...