Langsung ke konten utama

KEMERDEKAAN MEMILIH

Untuk adik-adik yang akan menghadapi ujian masuk ptn

Kemerdekaan yang paling realistis adalah ketika kita bebas untuk menentukan pilihan, menentukan sikap dan mengemukakan pendapat.  Lingkungan telah membutakan kita sehingga kita dengan mudahnya mengatakan bahwa setiap manusia punya pilihan. Benarkah demikian ?

Hidup memang pilihan dan pilihan utama dalam hidup adalah berbuat baik atau tidak. Kemudian untuk mencapai pilihan tersebut kita juga diberikan banyak pilihan jalan. Tapi tidak semua orang memiliki pilihan yang beragam. Banyak saudara kita di luar sana, atau mungkin saudara di lingkungan rumahmu, sekolahmu, dan warung tongkronganmu yang tidak memiliki pilihan lain dalam hidupnya kecuali berperang, bertani, cacat, dan  sebagainya.

Dalam konteks memilih perguruan tinggi, pertanyaan selanjutnya yang harus kita jawab sendiri adalah “anda merdeka, lalu apa?” . Apakah kita yang bisa memilih akan kuliah dimanapun yang kita mau, baik didalam maupun di luar negeri,baik negeri maupun suasta. Apakah kita  yang bisa memilih untuk masuk lewat jalur OSN, Undangan, maupun Ujian tertulis merasa bangga dengan fasilitas-fasilitas tersebut?

Dapat kita analogikan dengan sebuah kekuasaan. Saya yakin perbincangan mengenai korupsi dan penyalahgunaan wewenang merupakan perbincangan hangat yang terus kita diskusikan. Kekuasaan untuk memilih pun akan memberikan tanggung jawab moral tersendiri bagi kita. Maka, tanggung jawab seperti apa yang akan kita pikul ketika kita menjadi seorang mahasiswa? Jika kita peka dan mampu meraskan apa yang dirasakan oleh orang-orang  dengan keterbatasan memilih, tentulah kita patut bersyukur akan hal itu dan menggunakan sebaik-baiknya      kemerdekaan yang melekat pada diri kita tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selewat Kisah Sebutir Nasi Yang Menangis

Tempo lalu aku makan di salah satu restoran mahal yang berada di mall mewah di Jakarta. Pamer dikit ya, resto itu mengusung konsep ‘all you can eat’. Restoran yang sedari awal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah makan disana kecualli dibayarin, dan tentunya yang kemarin itu dibayarin oleh salah satu klien kantor. Mau tau kenapa aku berjanji demikian? Sedari awal aku memang udah punya persepsi kurang baik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘all you can eat’ dan gak hanya berlaku untuk restoran. Termasuk makanan yang ada di acara-acara penting yang banyak makanannya tentunya. Dan benar saja persepsiku. Pas aku antri makanan, aku kaya lihat segerombolan manusia yang ‘kok agak kurang punya kebudayaan dan belum pernah mengenal peradaban’. BARBAR KALI! Semua mau diambil dan semua mau dimakan. Alasannya sederhana lah. Karena sudah bayar sekian ratus ribu dengan waktu yang dibatasi selama 90 menit, yang makan disana harus memaksimumkan kepuasan den...

Masalah Lebih Cepat Datang Kepada Mereka Yang Tidak Diam

Suatu hari aku duduk menghadap secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek bersama temanku. Kita tenggelam di suatu pergibahan mengenai kesialan seorang teman. Dia yang kami perbincangkan ini menghadapi perkara yang tidak terduga bisa disandungnya. “Hidup gini amat yak” kata lawan bincangku. Kalimat itu adalah gambaran umum tentang hidup yang harus tersandung masalah. Namanya kesandung ya kesel campur kaget. Siapa sajakah mereka yang kesandung? Tentu syarat pertama untuk bisa kesandung adalah berjalan, berlari,  atau bergerak kedepan.  Perkara kedua adalah ketiadaan waspada. Entah karena memang kurang waspada atau gerak jalannya terlalu cepat. Seperti kata temanku, “Dia udah nekat banget sih.” Cuplikan ini menghantarkan aku kembali ke beberapa memori. Dulu ketika aku sedang megamen di sekitar bundaran Hotel Indonesia, temanku nekat mengambil uang dari  dashboard  metromini yang ditinggal supirnya beradu debat dengan mobil yang menabrak dari belakan...

Bujang

Kisah ini terjadi bersamaan dengan eksistensimu di dunia ini. Tepatnya pada tahun-tahun dimana pengguna aplikasi chat whatsapp belum didominasi oleh bapak-bapak cabul yang doyan share foto syur biduan-biduan klub dangdut orkes melayu. Kesatu Diceritakan seorang pemuda, ganteng-ganteng sedang (GGS) berhidung mancung, beralis tebal, berkumis tipis, dan memiliki beberapa jerawat karena jarang cuci muka sampai di sautu daerah yang baru dikenalnya. Daerah ini terletak di bagian barat pulau Sumatera bernama Lubuk Basung. Kedatangannya bermaksud untuk memenuhi undangan dari paman jauh yang konon katanya sudah sukses di tanau rantau dengan perniagaannya. Paman-kemenakan itu bertemu di terminal kabupaten. Setelah saling rangkul dan menanggalkan kerinduan, sang paman langsung mengajak ke lokasi utama tempat operasional perniagaannya berlangsung yang berjarak 30 menit perjalanan motor ke arah pegunungan. Takjub betul si bujang tanggung ketika sampai di TKP. Warung besar berbentuk ru...