Lebih kurang dua tahun ini, Didik
tiada bercengkrama dengan remaja-remaja di kampungnya seperti masa yang
sudah-sudah. Hari-hari kini hanya ia lalui dengan menulis cerita dan membaca
cerita juga beberapa karya ilmiah. Di per-papasannya dengan teman-temannya di
persimpangan kampung pun Didik seakan asing, seakan bukan warga sekitar. Hal
itu adalah pelanggaran moral sebagaimana Didik melanggar sesuatu yang
disepakati khalayak kampung, ke-alfa-annya seakan menjadi dosa tiada terampuni.
Apalagi kini Didik juga semakin
jarang terlihat di masjid di waktu-waktu sholat jamaah. Padahal sebelumnya
Didik adalah remaja masjid yang dipanuti meski ia pernah menolak untuk menjadi
ketua remaja masjid. Kebanyakan beranggapan hal ini dipicu suatu peristiwa
pengusiran seorang gembel yang pernah menumpang bermalam di Masjid oleh Ust. Fikry, si Imam masjid yang tak lain adalah ayah Didik. Dia marah benar karena
memang pengusiran waktu itu tiada manusiawi hanya lantaran bau busuk yang
bersumber dari badan gembel itu memenuhi ruangan masjid ketika sholat mahgrib
berlangsung. Tiada seorang pun menolong gembel itu, bahkan kebanyakan turut
menertawakan, kecuali Didik seorang.
Tapi apa daya, di masjid saja tak
dipersilahkan oleh Ayahnya apalagi di rumahnya sendiri. Kemarahan Didik tidak
hanya kepada ayahnya juga kepada dirinya sendiri yang merasa tidak berdaya.
Beberapa teman dekat Didik memiliki
pendapat lain. Mereka beranggapan Didik berubah semenjak lulus SMA dan berkuliah.
Sejak itu percakapan-percakapan yang melibatkan Didik di dalamnya selalu
berlangsung serius cenderung tegang. Suatu ketika Didik mengutarakan
pendapatnya untuk tidak menggunakan pengeras suara ketika menyalakan rekaman
shalawat sebelum waktu sholat. Menurutnya hal itu mengganggu orang-orang
non-muslim yang tinggal di sekitar masjid. Mulanya teman-teman Didik hanya
menimpalinya dengan candaan-candaan seperti “yaelah gitu doang mereka aja gak
komen kok lo yang sewot sih, dik”. Segala opini Didik sampaikan mengenai rasa
empati umat muslim yang harus ditingkatkan demi menjaga kerukunan umat beragama
hingga-yang dirasa paling serius- Didik mengatakan “Katamu Tuhan dekat, tapi
kau panggil Dia dengan pengeras suara”.
Dulu pula, Didik tidak hanya dianggap
sebagai panutan, tapi juga teman curhat dan bertukar pikiran yang paling baik.
Beberapa remaja putri juga senang dengannya. Suatu masa dia pernah dekat dengan
Ailin, si Mualaf putri semata wayang Ci Sherly si pemilik fotokopian di dekat
pasar. Ailin juga adalah teman kuliah Didik beda jurusan. Ketika itu Ailin baru
lebih kurang setengah tahun menggunakan hijab. Di masa-masa peralihan itu Ailin
sering kali menerima kritikan-cenderung intimadatif- mengenai perilakunya yang
belum banyak berubah menyesuaikan dengan sebagaimana muslimah seharusnya. Ailin
masih menggunakan celana jeans ketat, misalnya, atau masih sering bercanda
ala-ala anak muda yang sedang pacaran dengan teman-teman lelakinya. Didik
selalu menguatkan Ailin dan terus mendorong Ailin untuk menghargai setiap
proses hidup yang sedang ia lalui. Tapi disisi lain Didik jengah juga dengan
kelakuan orang-orang yang suka mencemooh itu.
Semua peristiwa itu tidak bisa tidak
dianggap serius bagi Didik dan semua itu pula telah mengusik ketenangan Didik.
Resah bukan main Didik. Apalagi semua peristiwa itu berdatangan dari
orang-orang yang dianggap berpendidikan dan memiliki ilmu pengetahuan mengenai
agama yang cukup. Didik juga mulai dianggap sedikit menyimpang dan dianggap
liberal.
Pada suatu malam didik seorang diri,
berhadapan dengan pena, secarik kertas, laptop, dan secangkir kopi ABC moka. Direnungkannya
segala sesuatu mengenai kehidupan, dirinya, dan agamanya. Sepeti biasa,
mulailah ia mencoret-coret pada secarik kertas itu hingga menemukan suatu
bentuk peta konsep. Lalu dilanjutkannya menumpahkan segala pikirannya itu
kedalam bentuk essay. Seperti biasanya pula, ia mempublikasikan tulisan itu ke
blog pribadinya dan dibagikannya kepada grup chat kelompok remaja masjid. Namun tidak seperti biasanya, tak
satupun anggota grup memberikan tanggapan berupa sanggahan, persetujuan, atau
sekedar pujian. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka mengirimkan gambar
yang bertuliskan “JANGANLAH KAMU MENULIS SEBELUM BERILMU” dengan tambahan
keterangan “KARENA TULISAN SAMA HUKUMNYA DENGAN PERKATAAN DAN PASTI AKAN
DIHISAB”. Sontak Didik terkejut. Sejak kapan teman-temannya jadi sekaku ini. “Jangankan
tulisan, sekedar buang air kecilpun itu dihisab,” balas Didik menutup
percakapan di grup chat tersebut.
Didik terdiam. Merenung masih di
dalam rasa kejutnya. Hingga akhirnya dia teringat suatu artikel yang
bertuliskan “bahwasannya Agama itu hanya hidup dengan selalu membenarkan diri
sendiri seakan paling benar dan menyalahkan yang lain yang diluar dirinya”. “Tuhan,
benarkah demikian keberadaan agamMu kini yang diasuh oleh kami yang bodoh ini?
Mengapa Engkau berdiam diri sementara agamaMu dihancurkan dari dalam oleh
mereka yang mengaku mencintaimu? Benarkah begini maksud penciptaan kami?”
Sejak itu lah, Didik tiada lagi
pernah bersama rekan-rekannya, baik di masjid maupun di luar masjid.

kamu juga berilmu!
BalasHapus