Di Telagasari, perbincangan mengenai
dukun, teluh, dan pesugihan masih sangat kuat. Ia hidup berdampingan dengan
kecanggihan teknologi dan informasi, bahkan yang terjadi facebook dan whatsapp
memperkuat hegemoninya. Cepat saja, barang siapa sukses dengan pesugihannya,
foto-foto tentang dirinya sudah akan menyebar di jagat semesta maya dalam
sehasta waktu. Si Orang Kaya Baru sudah pasti memamerkan segala rupa harta
benda melalui instagram. Gaya hidupnya menjadi tontonan warga melalui
instastory. Seorang selebriti baru telah lahir.
Usut punya usut, ada seorang janda
sebatang kara hidup di salah satu tegalan di luar desa itu. Janda itu hidup
teramat sederhana di sebuah gubuk berdinding anyaman bambu yang dilapisi kapur
dan beralasan tanah. Namanya Nyai Jebug. Baginya setiap zaman sama saja, setiap
hari adalah rabu malam. Ia dibenci oleh
warga sejatinya bukan karena ilmu hitam yang ia miliki, bukan juga karena iri.
Tetapi karena adanya isu dia adalah seorang keturunan PKI. Kemampuan yang ia
miliki juga semakin memperkuat kebencian warga kepadanya.
Suatu ketika ia pernah mengunjungi
salah seorang warga yang juga kerabat terdekatnya dengan maksud meminjam uang
untuk berobat almarhum putera semata wayangnya. Sakit itu cukup keras ketika
itu hingga. Yang diperlukan tidak begitu banyak, hanya dua puluh ribu rupiah. Tapi
kerabat yang merupakan salah seorang terpandang di desa itu tidak memberikan
dengan alasan sudah digunakan untuk keperluan mendesak. Mulanya dia memaklumi. Tetapi
yang menjengkelkannya kerabat itu meminjamkan uang kepada orang lain sebesar
dua ratus juta rupiah. Saat itu pula sumpah serapahya mawut semrawut terbuncah
dan menjadi sial anak-beranak si kerabat itu.
Suatu tahun bulan puasa jatuh pada
bulan Mei. Gubuk di pinggir kampung itu kerap disateroni orang meminta
pelayanan diwaktu malam menjelang pagi. Orang-orang tua meminta kemulusan hajat
anak-anak mereka agar bisa masuk Universitas ternama di Ibukota. Benar. Ketika itu
pemuda-pemudi Telagasari berkampus di Ibukota menjadi tren terbaru sebagaimana
mereka melihat para Selebgram. Segala rupa usaha akan dilakukan, termasuk
menyuap, tapi sering kali gagal. Maka darisitulah, Kampus menolak dukun
bertindak.
Semua yang datang pasti mendapatkan
apa yang mereka kehendaki. Hal ini menimbulkan keirian dari Serit, salah satu
putra muda dari kerabat yang pernah menolak permintaan Nyai sebelumnya. Ia dan
saudara-saudaranya tak pernah meraih kesuksesan diisinyalir karena sumpah
serapahnya terdahulu. Maka adalah dia yang pertama kali beritikat untuk memulai
kembali hubungan baik agar ia bisa sama setara dengan pemuda seumurannya di
desa itu.
Permintaan maaf yang pertama tidak
membuahkan hasil. Begitu juga yang kedua dan yang ketiga. Dendam Nyai kepada
anak-beranak kerabat itu tiada berkesudahan. Sudah bersujud dan merendahkan
diri bagai manusia tak bermartabat Serit lakukan. Lamat laun habis kesabaran Serit
dan ia mulai memikirkan cara untuk membalas dendam.
Serit mulai mencari keberadaan dukun
lain yang kuat setara dengan Nyai Jebug. Namanya Nyai Menik. Kemudian Serit
meminta kepada dukun tersebut untuk meneluh salah seorang putera mahkota Kepala
Desa Telagasari yang paling disayangi di keluarganya dan meninggalkan
jejak-jejak seakan teluh itu datang dari Nyai Jebug. Meski berat, Nyai Menik
yang menaruh persaingan sengit dengan Nyai Jebug menyanggupi hal tersebut.
Mulailah Nyai Menik melakukan pelbagai ritual. Dinyalakannya dupa dan
diletakkannya kemenyan juga kembang tujuh rupa diatas tungku.
Penyakit mulai menggerogoti tubuh
tambun putera mahkota hingga badannya kurus kering tersisa hanya tulang dan
kulit. Suatu pertanda teluh itu telah berhasil. Tepat pada rabu malam sebelum
lebaran Haji usia Si Putera Mahkota sampai pada ujungnya. Serupa sungguh
seperti teluh Nyai Jebug yang sudah-sudah di rabu malam, maka tuduhan pun warga
alamatkan kepada janda tersebut.
Kepala desa mulai mengerahkan warga.
Minyak tanah, obor, dan parang dipersiapkan untuk memberangus rumah si Nyai.
Kepala Desa sendiri yang memimpin segerombolan bala murka itu. Dengan
menggunakan berbagai sepeda motor, gerombolan langsung menuju area kekuasaan
Nyai Jebug. Sebagaimana tamu tak diundang, warga langsung menerobos ke
pekarangan rumah dan mulai meratakan kawasan tersebut dengan minyak dan api. Sekejap
saja seperti tiada perlawanan gubuk itu hangus rerata dengan tanah. Bala Murka
itu puas dan tertawa-tawa.
Namun kejayaan itu tidak berlangsung
lama hingga ada yang menyadari tidak lebih dari limapuluh meter di sisi
kiri-kanan api unggun itu ada rumah-rumah lainnya. Seharusnya rumah Nyai Jebug
hanya berdiri sendiri diantara kawanan pohon-pohon rimbun yang berlumut. Sedang
ketika api mulai memadam, tergeletak beberapa mayat, padahal Nyai Jebug hidup
sendiri. Barulah warga menyadari, rumah itu tiada lain adalah rumah keluarga
Serit.

Komentar
Posting Komentar