Langsung ke konten utama

Postingan

HIDUP KALO DIPIKIRIN SUSAH

Pernahkah kalian mengucapkan hal tersebut? Pernahkah kalian berpikiran demikian ? Berpikir itu menguras banyak energi. Perkataan seperti ini sering dilontarkan oleh kaum pinggiran. Orang pinggiran yang dimaksud disini adalah mereka yang memiliki kesulitan finansial, kesulitan untuk mengakses layanan sosial, kesulitan untuk menempuh pendidikan dan lain sebagainya. Wajar saja mereka berpikir sedemikian dangkalnya. Sekedar memenuhi kebutuhan dasar hidup saja susah. Apalagi memikirkan hal-hal lain yang lebih kompleks. Masalah yang mereka hadapi sesungguhnya sudah kompleks. Namun, mereka tak sanggup menyelesaikan. Sehingga hal-hal tersebut tidak lagi mereka pikirkan. Tentunya berbeda dengan orang-orang yang mampu mengakses pendidikan, apalagi sampai ke perguruan tinggi. Di perguran tinggi kita diberikan beragam teori, diberikan atmosfer untuk berpikir. Apalagi bagi mereka yang kebutuhan dasar tak lagi menjadi persoalan penting.  Kita disuguhi banyak pendapat. Banyak teori. Mengen...

Dari Jalanan menuju Mahasiswa, Master

Hari pertama ketika saya mengikuti kelas intensif kami ditanya mengenai jurusan apa yang akan kami ambil, saya masih membawa idealism saya ketika saya masih SMP untuk mengambil jurusan arsitektur interior, karena ketika saya smp saya sangat menyukai peajaran Fisika dan muatan lokal Tehnik bangunan di SMPN 22 Bandarlampung. Namun saya sadar di sekolah tempat saya berada saya tidak pernah sekalipun mempelajari pelajaran saintek lagi. Di masa-masa itulah saya merasa bimbang dengan jurusan apa yang akan saya ambil kemudian. Waktu berlalu banyak interaksi terjadi hingga hati saya condong untuk mempelajari ekonomi secara makro. Akhirnya, kebimbangan saya menyempit diantara dua pilihan, apakah Ilmu Ekonomi atau Ilmu Ekonomi Islam. Para pengajar yang tergabung di program Master FE UI berangkat dari para mahasiswa yang peduli betapa pentingnya pendidikan dan merasa prihatin dengan kondisi kami yang tak banyak memiliki pengetahuan tentang kehidupan perkuliahan meski kami hidup di tengah pus...

Tak Perlu Waktu Lama, Kawan !

Dulu, sebagai bagian dari suatu Negara kita memiliki musuh bersama. Musuh itu adalah musuh negara kita. Mereka adalah yang kita sebut dengan penjajah. Bangsa ini belumlah bersatu ketika itu. Bangsa ini terdifrensiasi dan terstratifikasi. Ada yang bodoh dan ada yang terpelajar. Ada kaum bangsawan dan ada pula kaum jelata. Ada kaum yang peduli dan ada pula kaum yang hanya cuek saja. Ada kaum yang berjuang, namun ada kaum yang justru menjilat kepada para penjajah. Butuh 350 tahun untuk menyadari penjajah adalah musuh bersama. Sehingga berbagai perbedaan mudah tuk disatukan. Bangsawan tak ragu untuk turun tangan bahu-mambahu bersama rakyat. Rakyat biasa diberikan kesempatan bersuara di meja perundingan. Tak ada pembeda latar belakang kesukuan, kebangsawanan, bahkan ideologi. Analogi yang bukan pantas sejujurnya. Namun cobalah kita umpamakan menjadi warga negara seperti menjadi mehasiswa. Ketika kita mendapatkan dosen killer ada beberapa mahasiswa yang menerapkan strategi menjila...