Langsung ke konten utama

Postingan

Entah Tuhan Yang Mana

Adalah Menyen yang senantiasa menghiasi hari-hari di sekitaran lampu merah perempatan jalan Sumur. adalah jalanan menjadi dunianya karena dia terlahir di salah satu sudut jalan itu, di pembuangan sampah sementara ari-ari masih mengikat padanya dan darah masih menyelimuti sekujur tubuhnya. Kata warga masih syukur bisa bertahan hidup. Tapi mungkin hatinya tak setuju karena dunianya hanyalah dia yang tau. Hatiku tak nyaman tiap kali ada yang mengamen atau mengemis di kawasanku. Rasanya perhatian pemilik motor terbagi kepada mereka. Ingin sekali aku mengumpat kepada mereka namun tentu mereka tak akan mendengar dan tak akan paham. Hanyalah Pak Uman yang membuatku merasa teduh. Hatinya lembut dan menaruh perhatian kepadaku. Setiap malam menjelang tidur beliau menghampiri selokan belakang pos satlantas. Mengantarkan sebungkus nasi sebelum ku tidur. Aku sayang Pak Uman. Sangking sayangnya sampai ia kadang kesal kepadaku karena aku bertindak seperti anak kecil yang tak menurut. ...

The Railway Gate-Keeper

Today, I came home, my friend. This crossroads was still the same even though the building has been changed and trees have been rising. The nuance is never lost. Last year, as last year student I came up for you. You asked whether brings me visited you. "memories," I said. It heard so cliche because we often read it in the short story that published in every Sunday Newspaper. Right. The overstock of the newspaper that I can not sell in every morning before I go to school. But now, in the glory, I showed you that my article had published in the one of a national newspaper. You smile on your silence. It was like what I said to you five years ago when we were the last year student in senior high school. We talked in the post of railway gate after I sell the newspaper in the crossroad, as usual. I told you about my dream, "I will be the economics student at the University of Indonesia," I said. "And then, my article will be published, Indonesians will be a...

Film The Matrix (1999) Dalam Perspektif Ilmu Tasawuf

Dalam percakapan pertama Neo dengan Trinity, Neo terungkap bahwa Neo sedang mencari seseorang. Hakikat dari pencarian itu bukanlah mengenai siapa, namun apa. Dalam kaitannya dengan ilmu tasawuf, manusia sejatinya tidak sedang mencari siapakah Tuhan, melainkan mencari kebenaran dari keberadaan Tuhan itu sendiri. Tuhan yang selama ini kita imani Maha Menentukan kehidupan kita. Takdir, Sejauh manakah kita percaya terhadap takdir? Sudahkah kita menayakan lebih mandalam mengenai Takdir yang ditentukan Allah terhadap kita? Dalam film the Matrix, Pernyataan Neo kepada Morpheus bahwa dia tidak dapat memercayai takdir yang berarti ketidakmampuan manusia menentukan hidupnya sendiri. Apakah perbedaan antara dunia nyata dan dunia impian? Apakah realitas yang dilihat dan dirasakan sehari-hari merupakan sebuah realitas? Seperti apa yang diajarkan Allah s.w.t. melaului Alquran dan Hadis bahwasannya dunia yang kita tempati saat ini hanyalah fana dan sementara. Ada dunia yang lebih nyata d...

PALANG PINTU

Hari ini aku pulang, sahabatku. Persimpangan jalan ini masih lah sama meski gedung telah berganti dan pohon telah meninggi. Nuansanya tak pernah hilang. Dua tahun yang lalu kau bertanya padaku ketika kudatang dengan selembar artikel yang kupotong. Hari itu lama kita tak berjumpa dan masih mudah engkau kutemui di tempat biasa. “Untuk apa kau datang?” “Kenangan,” percakapan ini sangat tak asing bagi kita karena kita pernah membacanya di sebuah cerpen koran minggu, setahun sebelum itu. Setahun sebelum itu kau kujumpai di tempat yang sama. Sepulang aku berjualan koran di Pasar Kemiri, ku berikan sepotong cerpen. Seperti biasa. Seperti minggu yang sudah-sudah. Kubilang padamu bahwa karyaku akan tertera disana dan di koran-koran lain, suatu hari nanti. Kau tersenyum. Tanpa ragu. Hingga setahun setelahnya aku datang kembali dengan sedikit jumawa dan beribu kerinduan. Kau masih ditempat yang sama. Sahabatku. Kuperlihatkan padamu koran senin pagi yang tak lagi pernah kujaja...

AKU MINTA ANTAR BAPAK KE SEKOLAH

Menjelang tahun ajaran baru, aku senyum-senyum. Gambar-gambar di sosial media bikin aku kangen bapakku. Lelaki tampan yang kukenal pertama kali lewat poster dan baliho di sepanjang Jalan Margonda. Aku di kasi tau sama lelaki bisu yang selama ini ku kira adalah bapakku. Setelah aku pandai baca tulis lelaki itu bilang lewat tinta oli di atas bekas bungkus nasi kalau pria yang ada di baliho warna hijau itu anaknya. Disitu aku mulai paham kalau itu kakekku. Aku mau mudik ke rumah bapakku. Ya, bapakku yang ada di baliho. Ya jelas kerumahnya yang beneran lah masa aku pulang ke baliho. Kalau sudah ketemu sama dia aku mau sungkem terus minta duit buat bayaran sekolah yang udah ditagih entah berapa kali. Tapi ya gitu. Enggak ketemu.. Lah yaudah aku minta aja sama kakekku biar nganter aku ke sekolah. Tapi ya kakekku gatau mau bayar sekolah pake apa? Pake setumpuk koran yang udah gak laku dijual di lampu merah? Adikku yang masih bayi turut menangis. Sudah sebulan lebih dia minum ...

PERI MATI

Aku, ibuku, dan jalanan ibu kota. Aku dan ibuku yang tak kukenal yang mana. Ada banyak wanita yang memperlalukanku sama. Kami mendewakan matahari yang membakar kulit. Kami membenci hujan yang mencengkramku dingin dan kadang merendam telapak kaki hinga ke lutut. Aku hidup di antara rimba dan binatang berderu. Kadang suaranya mendesak hingga ke dada. Setiap kali aku menangis pada dunia, ibu dan ibuku memberikan kain. Harum aromanya dan membuatku melayang hingga ke awan. Awan yang kulihat melayang bersama sinar mentari. Setiap ibu mencintaiku. Katanya aku tak suka menangis. Mereka bilang aku lucu di dalam tidurku. Di setiap persimpangan, aku melihat orang lain. Kulitnya putih kemerahan. Terkadang mereka menangis dan terkadang mereka tertawa. Mereka ada di setiap pelukan wanita yang tak kukenal. Apa yang mereka minum? Apa itu yang tak pernah kurasakan sebelumnya? Ibu bahagia. Ibu bangga punya aku. Sangking bangganya mereka memperebutkan aku. Jika mereka dapatkan aku...

ALASAN YANG DIBUAT-BUAT (?)

             Hidup Generasi Wacana !!! Tapi untuk urusan produktif di libur panjang semester ganjil, aku tak mau ini menjadi wacana lagi. Cus langsung daftar aja. Tapi bukan berarti tidak ada pertimbangan apa-apa. Karena hidup itu adalah pilihan (bener gak sih?), maka memilih kegiatan untuk mengisi liburan yang terlalu panjang pun beragam. Pertimbangan paling penting sehingga aku tertarik sekolah rakapare adalah ; 1.       Ini bukan sekolah atau sejenis kaderisasi neko-neko yang kasusnya ada di tipi-tipi. Terjamin aman karena banyak kakak kelas dan kenalan di Depok yang sudah pernah ikut Sekolah Rakapare. 2.       Menurut Iklan yang disebar katanya ini sekolah aktivis. 3.       Untuk sekolah alam, biaya yang dikeluarkan sebenarnya sangat murah. Sebagai mahasiswa Ekonomi saya jadi penasaran bagaimana carannya sekolah yang segini keren bisa menekan biaya semaksimal mungkin ...