Bulan Ramadhan tahun 2014, rupanya sudah lewat barang tiga
tahun yang lalu. Tahun itu adalah tahun yang begitu berarti bagiku. Masa dimana
pertama kalinya aku mengenal Kota Depok-Sekolah Master lengkap dengan segala
mimpi, harapan, kenyataan, kesempatan, tantangan, ambisi, dan pergulatan. Rupanya
tahun itu Allah memberikan aku sebuah kesempatan yang mulanya sempat aku lupakan,
bersekolah lagi. Aku dan adikku tak perlu terlalu pusing memikirkan keperluan
sekolah. Hanya datang dengan tubuh dan jiwa ini, celana jeans dan kaus oblong
sudah cukup menjadi seragamku.
Bulan puasa ketika itu bukanlah mudah bagiku. Rumah tak punya
tapi Allah sediakan masjid bagi kami. Makanan Tak punya Allah pula
menyediakannya di Masjid. Masjid Terminal itu pula, masjid yang mengawali rumah
dan sekolah bagi mimpi-mimpi kecil dari orang-orang terpinggirkan di pinggir
terminal Kota Besar.
Ketika itu, mendapatkan uang tidaklah cukup mudah. Semalaman aku mengamen di tenda-tenda kaki lima sepanjang jalan Margonda, beranjak
setelah Sholat Mahgrib hingga pukul 11 malam, itu sudah tanpa istirahat, uang
50ribu adalah barang banyak. Padahal untuk makan sahur dan berbuka bersama
Bapak yang tak punya kerja dan Adik yang masih kecil paling sedikit 70ribu
diperlukan. Warung-warung memang tak cukup ramai seharian. Di sore hari
orang-orang berpuasa. Di malam hari pengungjung hanya ramai saat jam-jam
berbuka.
Maka cara kami bertahan hidup adalah dengan mengurangi
makanan yang kami beli. Setiap sore menjelang petang, kami sudah duduk-duduk
saja di pelataran masjid. Sembari mengaji atau berbincang-bincang dengan jamaah
lain, mengantri menu takjil yang disediakan masjid. Beduk berbunyi dan kami
nikmati rezeki yang melimpah ruah itu. Menunya beragam. Ada Kolak atau es buah,
ada gorengan, lontong, kue basah, kurma dan lain-lain. Dengan makanan sebanyak
itu, tentu cukup untuk menegakkan punggung tanpa perlu memakan nasi.
Begitu saja setiap hari hingga datang hari kemenangan. Allah
cukupkan rejeki kami. Susah memang tapi kami tak merasa susah atau gundah
gulana. Hari ini aku menuliskannya pun baru kusadari rupanya momen itu adalah
momen yang ada maknanya. Baru kusadari dengan segala keterbatasan itu, kami tak
merasa keterbatasan. Rupanya keterbatasan hanyalah mitos, begitu?
Komentar
Posting Komentar