Langsung ke konten utama

Penghuni Musholla, Kemanakah Kalian?

Pulang Sekolah, ada tiga pasang sandal jepit yang asing bagiku. Asing karena kotor teramat pekat berguratan bekas pijakan kaki yang lebih cekung dari sekitarnya. Rupanya ada tamu untuk Ayah. Mereka begitu tampak asing bukan hanya karena belum pernah mengunjungi kami sebelumnya, juga penampilannya. Yang tua nampak renta, berkulit coklat terbakar matahari, rambut menutup telinga dan nampak teramat kumal. Yang muda nampak masih lebih tua barang dua tahun dari aku. Berambut lurus dengan poni meneggelamkan mata, bajunya juga nampak teramat kumal. Yang kecil teramat melas, pipinya tembem giginya hitam. Bajunya juga tak kalah kumal.

Aku permisi saja dan langsung menuju kamar. Selesai ganti baju langsung ke dapur. Disusul suara Ayah yang meminta dibuatkan minuman 4 gelas. Ketika aku antar ke ruang tamu, kucuri barang sepatah dua patah kata percakapan diantara mereka. Rupanya mereka adalah sekeluarga kecil tanpa ibu dan tanpa seorang anggota perempuan-pun diantaranya, mengelilingi beberapa kota.

Menarik…

Masuk ke kamar, kututup pintu tidak sepenuhnya untuk kubiarkan suara masuk meski lirih. Aku duduk dekat-dekat pintu. Kudengar Ayah menawarkan kepada mereka untuk tinggal sementara waktu di musholla kampung dekat sarana MCK.

Mengapa gerangan?

Maka musholla yang biasanya hanya di kunjungi oleh Ayahku saja, tidak dengan keluargaku itu, menjadi punya penghuni. Sekejap musholla itu jadi lebih nampak terang karena mereka membersihkan dan menyiangi rumput di pekarangannya.

Setiap pagi, setelah kukenakan pakaian putih rok - pendek biru dan sebelum pergi ke sekolah, anak muda itu pasti datang ke rumah, mengucapkan salam dan menyodorkan botol air mineral kosong ukuran 1,5 liter yang (juga) kumal. Ternyata Ayah menawarkan  agar setiap pagi mengambil air minum dari rumahku untuk mereka karena air di MCK tidak layak minum.

Jika aku sedang menunggu bis Sekolah, pasti aku melihat mereka berjalan bertiga membawa tas berisi gitar dan satu buah ransel kecil. Kata ibu, mereka pergi mengamen. Mungkin ke stasiun mungkin ke pasar, aku tak tahu pasti. Begitu saja setiap pagi hingga menjelang pulan puasa.

Puasa hari ke tiga, ku dengar Si Tua sakit wasir hingga tak mampu berpuasa dan beraktivitas di luar. Suatu sore, si tua dan si muda datang ke rumah tidak dengan membawa botol air mineral. Mereka menemui Ayah dan meminta izin untuk mengamen di pom bensin tempat Ayah bekerja selama bulan puasa di malam hari. Ayah mengizinkan. Tapi setelah mereka pergi, ayah berkata kepada Ibuku saat makan berbuka puasa. “Ayah bisa mengizinkan mereka sampai batas waktu di ketahui oleh bos. Setelahnya, pasti Bos menyuruh Ayah untuk mengusir mereka.”

Aku penasaran. Maka suatu malam aku sengaja mengantarkan makan malam untuk Ayah ketika dia sedang bekerja.

Si Muda mengamen sendiri. Gitar yang dia mainkan tampak menenggelamkan tubuhnya. Sesekali dia duduk di pintu angkot, sesekali di masuk ke bis yang sedang mengisi bensin. Sering kali dia bernyanyi di depan kaca pintu mobil pribadi. Suaranya masih kekanak-kanakkan dan, jujur, itu sangat bagus.

Aku jadi ingin mengunjunginya setiap malam dan mengantar makanan bisa jadi alasanku.

Lama-lama si muda nampak menarik. Kini dia tak se-kumal ketika pertama kali bertamu ke rumahku. Sandal yang dikenakannya masih sama tetapi sudah bersih. Rambutnya masih lurus berponi tapi tidak menutupi matanya lagi. Bukankah seharusnya dia bersekolah? Jika iya, kelas berapakah kini?

Adiknya tak kalah menarik. Lucu dan penurut. Nampak sangat kuat dan jarang sekali terlihat menagis. Pernah sekali sekolahku diliburkan dan kulihat dua kakak-beradik itu sedang bermain di kebun depan Musholla. Mereka tampak sangat akur dan saling menyayangi. Sedangkan Si Tua memasak nasi menggunakan tungku dan panci yang dipinjami oleh Ibuku.

Anak-anak kecil di sekitar rumahku pernah mengaku bahwa kedua bersaudara itu tangkas. Pernah mereka menelusuri parit di depan musholla hingga ke kebun mawar di bukit belakang kampung. Mereka dapat sekantung besar berisi kerang sungai. Kemudian di masak beramai-ramai untuk menu berbuka mereka.

Bagiku mereka semakin menarik..

Suatu malam dipertengahan bulan puasa aku sengajakan pergi ke Pom Bensin seorang diri tanpa membawa makan malam Ayah dan tanpa sepengetahuan siapapun. Aku tak menemui mereka. Mereka juga tak ada di sekitar situ. Kemudian aku pulang dan sengaja ku ambil jalan memutar agar bisa lewat di jalan setapak dekat musholla. Rupanya mereka ada di situ juga ada Ayah juga. Aku mengendap-ngendap agar tak ketahuan. Aku curi dengar percakapan Ayah yang sedang meminta maaf mengenai kejadian kemarin malam. Rupanya si muda diusir oleh Bos Ayahku tanpa direncanakan sebelumnya.

Maka sejak itu, disetiap pagi menjelang Bus sekolah, kulihat Si Muda berjalan sendiri membawa tas gitar dan ransel. Tanpa si Tua yang sedang sakit dan adik kecilnya. Aku gemetar tapi kemudian ku beranikan diri menanyakan kemana arah tujuannya. Baru aku ketahui kalau selama ini mereka mencari uang dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, keliling sekitar kota dan kota di pinggir-pinggirnya.

........

Hari itu hari terakhirku Sekolah menjelang libur lebaran dan besok aku akan ke luar kota, berlibur di rumah nenek seperti libur yang sudah-sudah. Aku niatkan untuk membelikan makan malam yang lebih baik dari menu yang biasa mereka makan. Aku pergi ke musholla dan betapa senangnya aku Si Muda yang menerima kehadiranku. Nampak ia begitu lelah mungkin baru saja sampai dari melekaskan mencari nafkah.

Seminggu berlalu di rumah nenek hingga lebaran hari ke tiga. Aku kembali ke rumah dan ku dapati mereka tak ada di musholla, meninggalkannya dengan kondisi yang teramat bersih dan baik.


Entah kemana.. Aku tak sempat bertanya…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selewat Kisah Sebutir Nasi Yang Menangis

Tempo lalu aku makan di salah satu restoran mahal yang berada di mall mewah di Jakarta. Pamer dikit ya, resto itu mengusung konsep ‘all you can eat’. Restoran yang sedari awal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah makan disana kecualli dibayarin, dan tentunya yang kemarin itu dibayarin oleh salah satu klien kantor. Mau tau kenapa aku berjanji demikian? Sedari awal aku memang udah punya persepsi kurang baik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘all you can eat’ dan gak hanya berlaku untuk restoran. Termasuk makanan yang ada di acara-acara penting yang banyak makanannya tentunya. Dan benar saja persepsiku. Pas aku antri makanan, aku kaya lihat segerombolan manusia yang ‘kok agak kurang punya kebudayaan dan belum pernah mengenal peradaban’. BARBAR KALI! Semua mau diambil dan semua mau dimakan. Alasannya sederhana lah. Karena sudah bayar sekian ratus ribu dengan waktu yang dibatasi selama 90 menit, yang makan disana harus memaksimumkan kepuasan den...

Masalah Lebih Cepat Datang Kepada Mereka Yang Tidak Diam

Suatu hari aku duduk menghadap secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek bersama temanku. Kita tenggelam di suatu pergibahan mengenai kesialan seorang teman. Dia yang kami perbincangkan ini menghadapi perkara yang tidak terduga bisa disandungnya. “Hidup gini amat yak” kata lawan bincangku. Kalimat itu adalah gambaran umum tentang hidup yang harus tersandung masalah. Namanya kesandung ya kesel campur kaget. Siapa sajakah mereka yang kesandung? Tentu syarat pertama untuk bisa kesandung adalah berjalan, berlari,  atau bergerak kedepan.  Perkara kedua adalah ketiadaan waspada. Entah karena memang kurang waspada atau gerak jalannya terlalu cepat. Seperti kata temanku, “Dia udah nekat banget sih.” Cuplikan ini menghantarkan aku kembali ke beberapa memori. Dulu ketika aku sedang megamen di sekitar bundaran Hotel Indonesia, temanku nekat mengambil uang dari  dashboard  metromini yang ditinggal supirnya beradu debat dengan mobil yang menabrak dari belakan...

Bujang

Kisah ini terjadi bersamaan dengan eksistensimu di dunia ini. Tepatnya pada tahun-tahun dimana pengguna aplikasi chat whatsapp belum didominasi oleh bapak-bapak cabul yang doyan share foto syur biduan-biduan klub dangdut orkes melayu. Kesatu Diceritakan seorang pemuda, ganteng-ganteng sedang (GGS) berhidung mancung, beralis tebal, berkumis tipis, dan memiliki beberapa jerawat karena jarang cuci muka sampai di sautu daerah yang baru dikenalnya. Daerah ini terletak di bagian barat pulau Sumatera bernama Lubuk Basung. Kedatangannya bermaksud untuk memenuhi undangan dari paman jauh yang konon katanya sudah sukses di tanau rantau dengan perniagaannya. Paman-kemenakan itu bertemu di terminal kabupaten. Setelah saling rangkul dan menanggalkan kerinduan, sang paman langsung mengajak ke lokasi utama tempat operasional perniagaannya berlangsung yang berjarak 30 menit perjalanan motor ke arah pegunungan. Takjub betul si bujang tanggung ketika sampai di TKP. Warung besar berbentuk ru...