
Menyesali? –HAHA enyah sana. Aku tak akan berikan kekuatan
pada empatiku untuk membiarkan kisruh dalam kepala terus dan menerus. Aku
seringkali meminta Tuhan untuk menghentikan waktu dalam masa-masa aku sedang
terlalu lelah. Nyatanya Tuhanpun tak mampu melanggar untuk menyalahi
sistematika kehidupan yang sudah Dia rancang sendiri.
Maka disini juga aku, tak akan juga menahan lapar sampai uang
halal aku temui lagi. Di Ibukota begini, tak akan aku temui rumput yang mungkin
bisa mengenyangkan perut. Mereka, yang aku perhatikan di beberapa gerai McDonal
atau KFC, pasti ada yang makan dengan uang dari hasil bekerja jujur dan ada juga
yang makan dari uang hasil suap. Toh aman-aman saja.
Kerja halal macam apa yang dunia hendakkan kepadaku. Pekerjaan
tak punya dan keterampilanku tak dibutuhkan. Mungkin aku bisa saja jadi atlet
lari jarak pendek dan aku yakin mampu bersaing andai saja memiliki relasi
dengan para pejabat di birokrat. Karena itulah aku disini, asal ada kesempatan,
ambil peluang dan lari sekencang-kencangnya menghindari bogem mentah
orang-orang di jalanan.
Sejak kecil pula aku tak disekolahkan bahkan juga tidak oleh
orang tuaku. Sejatinya aku tak diharapkan kehadirannya dalam masa-masa madu
ibu-bapakku. Aku ingat betul, waktu itu bapakku tergopoh-gopoh memunguti
kainnya yang sudah tercecer. Setelah itu ada lelaki mencekik leher bapak dan
menghatam kepala, muka, dan apapun dari tubuhnya dengan apapun.
Bapak dan Ibuku pasangan selingkuh yang tertangkap sedang tidur
berdua tanpa busana di semak-semak. Kini semak-semak itu sudah berganti menjadi
kios-kios tuak, billiard, dan warung kopi.
Hilang semak-semak itu, begitu pula bapakku sejak saat
sebelum kelahiranku. Ibu membesarkan aku- seorang bayi mungil yang tak pernah
menangis semenjak lahir. Tapi tubuhku tumbuh dan membesar dangen cepat, berubah
menjadi lelaki kecil yang kuat dan lincah.
Umur 8 tahun, ibu mendaftarkan aku di sekolah. Itulah pertama
kalinya aku memiliki teman yang banyak dalam balutan kain yang seragam. Merah
dan Putih. Tapi tak ada teman sejati selain mereka yang hanya ingin mengolokku sebagai anak yang bisu
dan dungu..
Hampir setahun aku bereskolah- juga menahan derita. Tapi
akhir-akhir ini ibu guru sering memanggiliku ke kantor. Menitipkan amplop putih
persegi panjang untuk ibuku. Sudah tiga kali. Tapi yang terakhir tak sampai
kepada ibuku karena dia tak ada di rumah. Aku tak bisa berganti baju, tak paham
aku caranya. Makan pun tak ada di rumah. Aku teramat lapar. Lalu aku
membayangkan menu terakhir yang aku makan, kemarin siang. Hanya nasi berlumur
minyak goreng bekas ikan asin dan garam.
Aku terjatuh, dan tertidur, tak ingat apa-apa. Bangun-bangun
aku sudah ada di kolong jembatan beralaskan tanah, juga beberapa anak sebayaku.
Buru-buru aku beranjak dan mencari tau kemana arah pulang. Jalanan ini teramat
asing. Aku hanya ingat beberapa rumah-toko di pinggir jalan yang sepertinya
pernah ibu kunjungi jika sedang butuh uang. Aku sudah belajar dan sekarang aku
bisa membaca. Papan merek itu bertuliskan “Gadai”.
Malam berganti malam. Jalan-jalan kutelusuri dan hanya tidur
jika matahari berganti lampu jalan. Butuh tiga hari-malam untuk aku sampai di
rumah dan, ternyata, petak itu sudah punya penghuni baru.
Mendewasalah aku di kolong jembatan yang tadi dan disinilah
aku saat ini.
Aku menemukan tempat yang lebih baik untuk tinggal. Ada
masjid yang baru saja di bangun di dekat terminal. Setelah aku perhatikan,
tidak ada kegiatan keagamaan yang rutin dilakukan disini. Masih ada masjid lama
dekat toilet umum terminal. Hanya ada anak-anak kecil belajar di dalam masjid
ketika pagi, hanya pagi. Malam pertama aku tidur di emperan dekat tempat wudhu
yang kering tak terpakai. Ku pikir aku akan sendiri, rupanya ada beberapa supir
angkot juga tidur disini.
Maka mulai saat ini, aku jadikan tempat ini sarang bagiku.
Tempatnya dekat pasar-terminal-stasiun, juga kantor dinas walikota. Aku mulai
saja dari Masjid di Kanto Walikota dan.. Ya!! Ini tambang emas. Banyak orang
kaya-pejabat, bodoh dan lengah. Hari pertama aku dapat tas ransel, sekalian aku
kenakan sepatu yang bukan milikku. Aku tak paham betul mereknya yang aku tau
ada gambar kepala kelinci dengan dua telinga. Di dalam tas ada laptop, tablet,
dan beberapa dokumen- entahlah aku tak peduli- juga ada seragam berwarna
cokelat muda. Aku buang dokumen-dokumen itu, aku jual isinya kecuali seragam
itu. Aku dapat dua juta dari pasar gelap.
Keesokannya dan seterusnya, aku gunakan seragam itu jika
sedang berdinas..
Sumber Foto:Internasional - Kompas.com
Komentar
Posting Komentar