Langsung ke konten utama

Perkara Kopi


Tetiba aku merindukanmu, Ibu. Bukan karena aku sedang ingin mengiba jika saja aku tak tidur satu sel dengan pria cengeng ini. Hampir setiap hari dia memilukan nasibnya sendiri dan ibunya yang sedang mengasuh anak semata wayangnya. Aku bersimpati meski kadang jengah juga.

Lewat persis satu minggu aku disini. Bersama lebih dari 40 orang normal dalam satu sel dan mungkin lebih dari 200 orang tidak waras di sel yang terpisah. Makan dua kali di waktu sahur dan waktu berbuka dengan nasi putih dan sop ayam tanpa ayam dan sayur mayur. Aku mungkin bosan andai tidak karena kebersamaan atas kesamaan nasib dengan orang-orang ini.

Sungguh Ibu aku tak melakukan dosa apa-apa selain mencari uang halal. Mungkin benar aku melanggar peraturan gubernur. Tapi toh bukan polisi yang menangkap aku. Sebenarnya hanyalah engkau satu-satunya harapanku keluar dari sini. Tapi tentu aku tak akan meminta padamu yang kini entah dimana..

Lain aku lain lagi dengan Si Cengeng- Begitu aku menyebutnya. Dia masih punya ibu yang dia harap bisa menolongnya. Setiap kali menelpon, tak jelas apa yang dia katakan selain menangis dan minta maaf. Aku memang tak terlalu menaruh perhatian andai saja dia tidak mengeluh terus. Ku dengar dari tahanan lain bahwa Ibunya akan datang membawa kartu keluarga dan KTP sebagai berkas yang diperlukan. Jika benar, setelah menandatangi surat pernyataan tidak menjadi Joki 3in1 lagi, dia bisa bebas dengan segera.

Pagi ini tak seperti biasanya. Dia membeli rokok keretek yang dititipkan lewat penjaga dan dibagi-bagikan kepada kami. Biasanya kami patungan dan menggilir sebatang untuk banyak bibir. Kali ini rokok banyak dan kami kebagian sebatang untuk masing-masing. Mungkin hari ini hari terakhir baginya. Seolah saudagar kaya, dia mendapatkan tempat di tengah kerumunan kami dan semua orang menaruh perhatian kepadanya sebagai bentuk penghormatan terakhir. Mulailah dia bicara dengan tidak mengeluh dengan nada suram.

“Semoga kita sempet ketemu ya lebaran nanti,” katanya di sela-sela perbincangan. “Kita janjain di ancol aje, bang. Bikin pesta kecil-kecilan lah beli madol, eksimer, dexa, sama ciyu lah. Ada disitu langganan kite-kite. Aman lah kaga bakalan ade yang cepu,” timpal penghuni yang bocah, temannya menambahkan “Iye dong, masa orang kaya doang yang bisa party, kita juga bisa.”

Aku hanya pendengar dan wacana itu tak sedikitpun menarik apalagi membangun harapanku untuk bebas sebelum lebaran. Mungkin begitu juga dirasakan beberapa tahanan yang tak punya sanak saudara.

“Bang, masih ada rokoknya?” tahanan lain baru datang membawa kopi yang masih panas. Jarang-jarang kami bisa minum kopi. Tidak ada air panas. Kalau membeli harganya tiga kali lipat dari biasanya. Tapi beberapa tahanan memanfaatkan kayu-kayu rapuh dan plastik bekas untuk membuat api dan membakar botol plastik berisi air mentah, dimasak sampai panas di wastafel yang tidak berfungsi, tanpa membakar botol itu. Itulah cara kami minum kopi.

Lebaran semakin dekat para tahanan semakin sibuk mencari bala bantuan. Hanya ada satu colokan dan itu menjadi rebutan sesama tahanan. Petugas memang mengizinkan kami untuk membawa HP dan menghubungi siapapun untuk membawa beberapa syarat – KK, KTP pihak penjamin, dan/atau surat keterangan dari RT – untuk dibebaskan. Aku tak punya siapa-siapa saudaraku entah yang mana dan dimana.

Lama-lama aku terbiasa dengan keadaan. Mungkin tidak mengapa aku disini barang tiga bulan. Makan gratis dan tidur aman. Maka ketika orang-orang semakin sibuk mencari bala pertolongan, aku tenang-tenang saja.

Geger di suatu pagi, kepala tahanan yang terkenal kejam itu berteriak menggusur ketenangan pagi kami. Dikumpulkannya kami dalam satu ruangan. Rupanya kelakuan kami membuat api di dalam sel ketahuan. Semua diam dan tidak ada yang mengaku karena kami semua menikmatinya. Hal itu semakin membuatnya naik valak!! Dibariskannya kami dan disuruhnya berjalan jongkok mulai dari sel kami, turun ke lantai satu, dan menuju halaman dibelakang blok tahanan perempuan, bertelanjang dada. Masing-masing penjaga memegangi tongkat dan beberapa mengantongi pistol. Sudah itu masih pula kami harus memutar kolam limbah rumah tangga tahanan. Bau teramat bau. Hukuman masih akan di tambah dengan berendam di kolam itu jika masih belum ada yang mengaku. Terang saja tak ada yang mengaku. Ditendangnya kami dengan sepatu lars satu persatu memasuki kolam juga aku. Masih setengah yang masuk, salah seorang dari kami berteriak menyerahkan diri, disusul dengan tiga yang lain. Tak aku sangka, mereka adalah tahanan yang paling lama - dalam derita – dan paling dihormati, mengalah untuk kebaikan kami. Kemudian mereka berempat di seret entah kemana, hilang.

Malam itu terasa amat melelahkan. Badan kami sakit-sakit. Kakiku pincang entah sebab yang mana. Tapi kelegaan pecah ketika empat pahlawan itu datang kembali ke sel kami. Mereka disambut bak pendekar. Semua orang mengurusinya, ada yang memijat kepala, kaki, tangan, ada juga yang membelikan teh panas di kantin melalui petugas - juru titip – meski harganya mahal. Aku bangga atas keberanian dan pengorbanan mereka.

Satu persatu tahanan di bebaskan. Juga si cengeng yang dijemput oleh ibunya yang datang jauh-jauh dari kampung dan baru mengetahui pekerjaan anaknya di Jakarta. Aku, memilih tinggal dan menikmati kondisi yang bagiku tak ada bedanya kalaupun aku bebas. Tahanan jadi terasa sepi dan colokan itupun tak jadi rebutan lagi. Tapi aku tak sendiri. Para pahlawan itu tetap tinggal. Mereka justru minta dibawakan teko plastik pemanas air juga kopi kapal api dan gula satu kilo oleh rekannya yang menjenguk. Disitulah kami merayakan lebaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selewat Kisah Sebutir Nasi Yang Menangis

Tempo lalu aku makan di salah satu restoran mahal yang berada di mall mewah di Jakarta. Pamer dikit ya, resto itu mengusung konsep ‘all you can eat’. Restoran yang sedari awal aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah makan disana kecualli dibayarin, dan tentunya yang kemarin itu dibayarin oleh salah satu klien kantor. Mau tau kenapa aku berjanji demikian? Sedari awal aku memang udah punya persepsi kurang baik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘all you can eat’ dan gak hanya berlaku untuk restoran. Termasuk makanan yang ada di acara-acara penting yang banyak makanannya tentunya. Dan benar saja persepsiku. Pas aku antri makanan, aku kaya lihat segerombolan manusia yang ‘kok agak kurang punya kebudayaan dan belum pernah mengenal peradaban’. BARBAR KALI! Semua mau diambil dan semua mau dimakan. Alasannya sederhana lah. Karena sudah bayar sekian ratus ribu dengan waktu yang dibatasi selama 90 menit, yang makan disana harus memaksimumkan kepuasan den...

Masalah Lebih Cepat Datang Kepada Mereka Yang Tidak Diam

Suatu hari aku duduk menghadap secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek bersama temanku. Kita tenggelam di suatu pergibahan mengenai kesialan seorang teman. Dia yang kami perbincangkan ini menghadapi perkara yang tidak terduga bisa disandungnya. “Hidup gini amat yak” kata lawan bincangku. Kalimat itu adalah gambaran umum tentang hidup yang harus tersandung masalah. Namanya kesandung ya kesel campur kaget. Siapa sajakah mereka yang kesandung? Tentu syarat pertama untuk bisa kesandung adalah berjalan, berlari,  atau bergerak kedepan.  Perkara kedua adalah ketiadaan waspada. Entah karena memang kurang waspada atau gerak jalannya terlalu cepat. Seperti kata temanku, “Dia udah nekat banget sih.” Cuplikan ini menghantarkan aku kembali ke beberapa memori. Dulu ketika aku sedang megamen di sekitar bundaran Hotel Indonesia, temanku nekat mengambil uang dari  dashboard  metromini yang ditinggal supirnya beradu debat dengan mobil yang menabrak dari belakan...

Bujang

Kisah ini terjadi bersamaan dengan eksistensimu di dunia ini. Tepatnya pada tahun-tahun dimana pengguna aplikasi chat whatsapp belum didominasi oleh bapak-bapak cabul yang doyan share foto syur biduan-biduan klub dangdut orkes melayu. Kesatu Diceritakan seorang pemuda, ganteng-ganteng sedang (GGS) berhidung mancung, beralis tebal, berkumis tipis, dan memiliki beberapa jerawat karena jarang cuci muka sampai di sautu daerah yang baru dikenalnya. Daerah ini terletak di bagian barat pulau Sumatera bernama Lubuk Basung. Kedatangannya bermaksud untuk memenuhi undangan dari paman jauh yang konon katanya sudah sukses di tanau rantau dengan perniagaannya. Paman-kemenakan itu bertemu di terminal kabupaten. Setelah saling rangkul dan menanggalkan kerinduan, sang paman langsung mengajak ke lokasi utama tempat operasional perniagaannya berlangsung yang berjarak 30 menit perjalanan motor ke arah pegunungan. Takjub betul si bujang tanggung ketika sampai di TKP. Warung besar berbentuk ru...