Langsung ke konten utama

Postingan

PALANG PINTU

Hari ini aku pulang, sahabatku. Persimpangan jalan ini masih lah sama meski gedung telah berganti dan pohon telah meninggi. Nuansanya tak pernah hilang. Dua tahun yang lalu kau bertanya padaku ketika kudatang dengan selembar artikel yang kupotong. Hari itu lama kita tak berjumpa dan masih mudah engkau kutemui di tempat biasa. “Untuk apa kau datang?” “Kenangan,” percakapan ini sangat tak asing bagi kita karena kita pernah membacanya di sebuah cerpen koran minggu, setahun sebelum itu. Setahun sebelum itu kau kujumpai di tempat yang sama. Sepulang aku berjualan koran di Pasar Kemiri, ku berikan sepotong cerpen. Seperti biasa. Seperti minggu yang sudah-sudah. Kubilang padamu bahwa karyaku akan tertera disana dan di koran-koran lain, suatu hari nanti. Kau tersenyum. Tanpa ragu. Hingga setahun setelahnya aku datang kembali dengan sedikit jumawa dan beribu kerinduan. Kau masih ditempat yang sama. Sahabatku. Kuperlihatkan padamu koran senin pagi yang tak lagi pernah kujaja...

AKU MINTA ANTAR BAPAK KE SEKOLAH

Menjelang tahun ajaran baru, aku senyum-senyum. Gambar-gambar di sosial media bikin aku kangen bapakku. Lelaki tampan yang kukenal pertama kali lewat poster dan baliho di sepanjang Jalan Margonda. Aku di kasi tau sama lelaki bisu yang selama ini ku kira adalah bapakku. Setelah aku pandai baca tulis lelaki itu bilang lewat tinta oli di atas bekas bungkus nasi kalau pria yang ada di baliho warna hijau itu anaknya. Disitu aku mulai paham kalau itu kakekku. Aku mau mudik ke rumah bapakku. Ya, bapakku yang ada di baliho. Ya jelas kerumahnya yang beneran lah masa aku pulang ke baliho. Kalau sudah ketemu sama dia aku mau sungkem terus minta duit buat bayaran sekolah yang udah ditagih entah berapa kali. Tapi ya gitu. Enggak ketemu.. Lah yaudah aku minta aja sama kakekku biar nganter aku ke sekolah. Tapi ya kakekku gatau mau bayar sekolah pake apa? Pake setumpuk koran yang udah gak laku dijual di lampu merah? Adikku yang masih bayi turut menangis. Sudah sebulan lebih dia minum ...

PERI MATI

Aku, ibuku, dan jalanan ibu kota. Aku dan ibuku yang tak kukenal yang mana. Ada banyak wanita yang memperlalukanku sama. Kami mendewakan matahari yang membakar kulit. Kami membenci hujan yang mencengkramku dingin dan kadang merendam telapak kaki hinga ke lutut. Aku hidup di antara rimba dan binatang berderu. Kadang suaranya mendesak hingga ke dada. Setiap kali aku menangis pada dunia, ibu dan ibuku memberikan kain. Harum aromanya dan membuatku melayang hingga ke awan. Awan yang kulihat melayang bersama sinar mentari. Setiap ibu mencintaiku. Katanya aku tak suka menangis. Mereka bilang aku lucu di dalam tidurku. Di setiap persimpangan, aku melihat orang lain. Kulitnya putih kemerahan. Terkadang mereka menangis dan terkadang mereka tertawa. Mereka ada di setiap pelukan wanita yang tak kukenal. Apa yang mereka minum? Apa itu yang tak pernah kurasakan sebelumnya? Ibu bahagia. Ibu bangga punya aku. Sangking bangganya mereka memperebutkan aku. Jika mereka dapatkan aku...

ALASAN YANG DIBUAT-BUAT (?)

             Hidup Generasi Wacana !!! Tapi untuk urusan produktif di libur panjang semester ganjil, aku tak mau ini menjadi wacana lagi. Cus langsung daftar aja. Tapi bukan berarti tidak ada pertimbangan apa-apa. Karena hidup itu adalah pilihan (bener gak sih?), maka memilih kegiatan untuk mengisi liburan yang terlalu panjang pun beragam. Pertimbangan paling penting sehingga aku tertarik sekolah rakapare adalah ; 1.       Ini bukan sekolah atau sejenis kaderisasi neko-neko yang kasusnya ada di tipi-tipi. Terjamin aman karena banyak kakak kelas dan kenalan di Depok yang sudah pernah ikut Sekolah Rakapare. 2.       Menurut Iklan yang disebar katanya ini sekolah aktivis. 3.       Untuk sekolah alam, biaya yang dikeluarkan sebenarnya sangat murah. Sebagai mahasiswa Ekonomi saya jadi penasaran bagaimana carannya sekolah yang segini keren bisa menekan biaya semaksimal mungkin ...

GINI LOH RASANYA SEKOLAH DI ALAM TERBUKA

Pelajaran pertama yang aku dapatkan di sekolah rakapare-bahkan ketika sekolah ini belum dimulai-adalah bagaimana mengatasi kebiasaan/memiliki negative first impression kepada orang yang baru dikenal. Selama ini aku selalu punya hal tersebut dan selalu salah. Seperti kembali ospek ketika masih mahasiswa baru, aku mengulang sebagian tugas Ospek seperti berkenalan, membuat buku angkatan-maaf belum di perbaiki hehe-, dan bekerjasama dengan teman-teman baru. Tidak lupa menganai pentingnya berpikir positif. Apalagi ketika mengetahui bahwa aku tinggal di salah satu rumah warga bersama 14 orang teman baruku kecuali Farush. Awalnya mau sok ide bikin pembagian tugas. Lama-kelamaan tugas itu dikerjakan saja seikhlasnya apapun itu. Lingkungan desa yang sangat asri membuat suasana berbeda. Hal ini memudahkan aku untuk meninggalkan kebiasaan buruk di kota yang malas-malasan menjadi lebih mudah. Setiap hari bangun pagi-pagi untuk membantu orang tua asuh disana. Memasak, mencuci piring, membereskan...

KEBENARAN TE NAON !?

KEBENARAN ADALAH…             Materi yang diberikan oleh Sekolah Rakapare menurutku luar biasa. Materi pertama yang di berikan membuatku begitu tercengang. Belum apa-apa kami sudah harus membahas kebenaran. Terus terang aku tak begitu berani berargumentasi mengenai kebenaran karena hal ini mengundang perdebatan kusir yang menurutku tidak akan ada habisnya dan tidak memberikan manfaat apapun. Benar saja perkiraanku. Perdebatan itu dimulai dan benar-benar menjadi perdebatan yang tidak ada ujungnya. Hingga perdebatan itu di hentikan oleh Kang Bhatara. Setelah itu kami diberi pengertian bahwa kebenaran itu bersifat nisbi-untuk hal ini aku menyetujui meski tidak 100 persen. Apalagi jika menyangkut agama yang diyakini oleh masing-masing orang. Siapapun para pemeluk agama akan meyakini bahwa agamanyalah yang benar dan agama lain itu tidak benar-kebanyakan diantaranya. Kebenaran yang sebenar-benarnya adalah ketika kita tak pernah henti...

DESA SUNTEN JAYA, SEKOLAH RAKAPARE

Sebenarnya sudah berkali-kali aku hidup di desa yang tenang sunyi tanpa hiruk-pikuk. Tapi ada yang berbeda ketika aku ada di desa ini. Desa tempatku mengikuti Sekolah Rakapare 4. Hal yang membuatnya berbeda adalah karena aku di masa-masa jenuh dan bosan dengan rutinitas kota dan ketidak produktif-anku selama ini. Ditambah lagi aku berkumpul dengan orang-orang hebat dari berbagai daerah, suku, agama, perguruan tinggi, dan ideology yang luar biasa beragam. Disana aku tak hanya berlibur dan menghabiskan waktu selama seminggu tanpa sinyal operator seluler dan faslitas yang biasa aku rasakan di kota. Di desa ini aku bertemu dengan orang tua baru yang hidup dengan damai dan sederhana. Kakek dan Nenek Anem. Seminggu mereka menampung kami berlima belas dalam satu rumah, mengajak kami berladang sayuran dan mengerjakan rutinitas desa yang sangat kontras dengan rutinitas kota. Warga di desa ini menggantungkan hidup dari berladang dan ada juga yang berternak sapi perah. Sayangnya mereka buk...