Langsung ke konten utama

Postingan

Romansa Sehari-Hari

Dhani dan Ratih, adalah sepasang sejoli dari sebuah peradaban modern. Cinta mereka terbentang dalam suatu jarak yang tak dekat, namun cinta mereka begitu besar, tiada halangan untuk bertemu meski tak sering. Cinta mereka sudah tertulis sedari mereka duduk di tahun terakhir sekolah mengah akhir. Cinta mereka tumbuh ketika mereka satu kelas di sebuah lembaga bimbingan tes pergguruan tinggi. Kedua sama-sama penerima beasiswa dari lembaga bimbingan tersebut. Dhani ialah mahasiswa tahun kedua yang tampan dan ternama di Depok. Ia berkuliah dengan beasiswa penuh karena prestasi-prestasi yang ia torehkan. Meskipun bukan berasal dari keluarga berada, petani di Jawa Timur, ia mampu menyetarakan diri dengan pergaulan teman-temannya yang lumayan borjuis. Ia adalah seorang pekerja keras sebagai tenaga paruh waktu di sebuah lembaga riset ternama. Selain itu, ia juga merupakan seorang pemimpin organisasi yang disenangi oleh jajarannya. Keadaan sebaliknya ada pada Ratih, mahasiswi tahun perta...

Dia Yang Marah Kepada Agamanya

Lebih kurang dua tahun ini, Didik tiada bercengkrama dengan remaja-remaja di kampungnya seperti masa yang sudah-sudah. Hari-hari kini hanya ia lalui dengan menulis cerita dan membaca cerita juga beberapa karya ilmiah. Di per-papasannya dengan teman-temannya di persimpangan kampung pun Didik seakan asing, seakan bukan warga sekitar. Hal itu adalah pelanggaran moral sebagaimana Didik melanggar sesuatu yang disepakati khalayak kampung, ke-alfa-annya seakan menjadi dosa tiada terampuni. Apalagi kini Didik juga semakin jarang terlihat di masjid di waktu-waktu sholat jamaah. Padahal sebelumnya Didik adalah remaja masjid yang dipanuti meski ia pernah menolak untuk menjadi ketua remaja masjid. Kebanyakan beranggapan hal ini dipicu suatu peristiwa pengusiran seorang gembel yang pernah menumpang bermalam di Masjid oleh Ust. Fikry, si Imam masjid yang tak lain adalah ayah Didik. Dia marah benar karena memang pengusiran waktu itu tiada manusiawi hanya lantaran bau busuk yang bersumber dar...

Rudi Mendadak Tukang Loak

sumber: google image Tak jelas rupa tujuan Rudi kali ini membeli sepasang sepatu bekas. Mulanya ia melihat diskon besar-besaran yang ditawarkan oleh salah satu pameran besar yang diadakan di salah satu swalayan paling terkemuka di Jakarta. Didapatinya sepatu dengan harga murah karena sebenarnya model yang ia beli sudah cukup ketinggalan zaman. Jelas bukan dia jika membeli suatu barang yang tiada kekinian. Maka perkara ini hangat menjadi cemooh teman-temannya di asrama, juga aku. “Mau dipajang doang,” kata seorang teman. “Buat ganjel pintu jamban sih dugaan gue,” teman lain menambahkan. “E..buset, hoorang kaya mah bebas, sirik aja lu pada,” seorang teman dengan maksud tak lain mencemooh. Perihal ini pun hanya ditanggapinya sambil senyum sambil lalu. Benar rupanya dugaanku. Sepatu itu tidak dipakainya. Tentu tidak dipajang dan tidak ada di balik pintu jamban. Masih apik didalam keresek kemasannya. Tidak lama dari itu dia datangi kamarku dan langsung saja mengambil tas ransel m...

Durjana Rabu Malam

Di Telagasari, perbincangan mengenai dukun, teluh, dan pesugihan masih sangat kuat. Ia hidup berdampingan dengan kecanggihan teknologi dan informasi, bahkan yang terjadi facebook dan whatsapp memperkuat hegemoninya. Cepat saja, barang siapa sukses dengan pesugihannya, foto-foto tentang dirinya sudah akan menyebar di jagat semesta maya dalam sehasta waktu. Si Orang Kaya Baru sudah pasti memamerkan segala rupa harta benda melalui instagram. Gaya hidupnya menjadi tontonan warga melalui instastory. Seorang selebriti baru telah lahir.   Usut punya usut, ada seorang janda sebatang kara hidup di salah satu tegalan di luar desa itu. Janda itu hidup teramat sederhana di sebuah gubuk berdinding anyaman bambu yang dilapisi kapur dan beralasan tanah. Namanya Nyai Jebug. Baginya setiap zaman sama saja, setiap hari adalah rabu malam.  Ia dibenci oleh warga sejatinya bukan karena ilmu hitam yang ia miliki, bukan juga karena iri. Tetapi karena adanya isu dia adalah seorang keturunan ...

Perkara Kopi

Tetiba aku merindukanmu, Ibu. Bukan karena aku sedang ingin mengiba jika saja aku tak tidur satu sel dengan pria cengeng ini. Hampir setiap hari dia memilukan nasibnya sendiri dan ibunya yang sedang mengasuh anak semata wayangnya. Aku bersimpati meski kadang jengah juga. Lewat persis satu minggu aku disini. Bersama lebih dari 40 orang normal dalam satu sel dan mungkin lebih dari 200 orang tidak waras di sel yang terpisah. Makan dua kali di waktu sahur dan waktu berbuka dengan nasi putih dan sop ayam tanpa ayam dan sayur mayur. Aku mungkin bosan andai tidak karena kebersamaan atas kesamaan nasib dengan orang-orang ini. Sungguh Ibu aku tak melakukan dosa apa-apa selain mencari uang halal. Mungkin benar aku melanggar peraturan gubernur. Tapi toh bukan polisi yang menangkap aku. Sebenarnya hanyalah engkau satu-satunya harapanku keluar dari sini. Tapi tentu aku tak akan meminta padamu yang kini entah dimana.. Lain aku lain lagi dengan Si Cengeng- Begitu aku menyebutnya. Dia...

Pegawai Dinas-Lepas

Menyesali? –HAHA enyah sana. Aku tak akan berikan kekuatan pada empatiku untuk membiarkan kisruh dalam kepala terus dan menerus. Aku seringkali meminta Tuhan untuk menghentikan waktu dalam masa-masa aku sedang terlalu lelah. Nyatanya Tuhanpun tak mampu melanggar untuk menyalahi sistematika kehidupan yang sudah Dia rancang sendiri. Maka disini juga aku, tak akan juga menahan lapar sampai uang halal aku temui lagi. Di Ibukota begini, tak akan aku temui rumput yang mungkin bisa mengenyangkan perut. Mereka, yang aku perhatikan di beberapa gerai McDonal atau KFC, pasti ada yang makan dengan uang dari hasil bekerja jujur dan ada juga yang makan dari uang hasil suap. Toh aman-aman saja. Kerja halal macam apa yang dunia hendakkan kepadaku. Pekerjaan tak punya dan keterampilanku tak dibutuhkan. Mungkin aku bisa saja jadi atlet lari jarak pendek dan aku yakin mampu bersaing andai saja memiliki relasi dengan para pejabat di birokrat. Karena itulah aku disini, asal ada kesempat...

Penghuni Musholla, Kemanakah Kalian?

Pulang Sekolah, ada tiga pasang sandal jepit yang asing bagiku. Asing karena kotor teramat pekat berguratan bekas pijakan kaki yang lebih cekung dari sekitarnya. Rupanya ada tamu untuk Ayah. Mereka begitu tampak asing bukan hanya karena belum pernah mengunjungi kami sebelumnya, juga penampilannya. Yang tua nampak renta, berkulit coklat terbakar matahari, rambut menutup telinga dan nampak teramat kumal. Yang muda nampak masih lebih tua barang dua tahun dari aku. Berambut lurus dengan poni meneggelamkan mata, bajunya juga nampak teramat kumal. Yang kecil teramat melas, pipinya tembem giginya hitam. Bajunya juga tak kalah kumal. Aku permisi saja dan langsung menuju kamar. Selesai ganti baju langsung ke dapur. Disusul suara Ayah yang meminta dibuatkan minuman 4 gelas. Ketika aku antar ke ruang tamu, kucuri barang sepatah dua patah kata percakapan diantara mereka. Rupanya mereka adalah sekeluarga kecil tanpa ibu dan tanpa seorang anggota perempuan-pun diantaranya, mengelilingi beberapa...